Singgah di Masjid Bersejarah

Video Masjid Mbah Maridjan, Ide Pembangunan Berasal dari Mapala Unisi

Video Masjid Mbah Maridjan, Ide Pembangunan Berasal dari Mapala Unisi pada Tahun 1982.

Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Hari Susmayanti

TRIBUNJOGJA.COM - Sebuah masjid berukuran 12x11 berdiri megah di samping Museum dan Petilasan Mbah Maridjan di dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

MASJID yang memiliki nama Masjid Al-Amin atau Masjid di atas pasir ini pertama digagas oleh sejumlah mahasiswa Mapala Unisi dari Universitas Islam Indonesia dan mendapat persetujuan warga pada tahun 1982.

Mas Bekel Suraksosihino atau yang biasa dipanggil Mas Asih yang merupakan putra ke-4 dari Mbah Maridjan sekaligus menjadi Takmir Masjid ini mengungkapkan, dulunya masjid ini merupakan wakaf dari Mbah Hargo yang didirikan oleh masyarakat setempat dan Mapala dari UII.

"Dulu saya masih kecil, Mapala UII kan sering naik gunung setiap Minggu, dan ngepos di tempat bapak (Mbah Maridjan) mereka memiliki pikiran untuk mendirikan masjid karena dulu sarana belum ada," katanya.

Mas Asih menjelaskan, dulunya masjid ini merupakan masjid termegah di Kecamatan Cangkringan.

Baca: Video Langgar Dhuwur Kotagede, Berumur Lebih dari Satu Abad

Namun, karena adanya Erupsi Merapi tahun 2010 bangunan masjid menjadi rata dengan tanah. Setelah itu masjid Al-Amin didirikan kembali tahun 2011 dengan bambu seadanya.

Di tahun 2017, masjid Al-Amin mendapatkan bantuan dari beberapa donatur, dan di tanggal 28 Juli 2017 peletakan batu pertama mulai dilakukan.

"Dulunya masjidnya habis. Kemudian ada donatur dan mulai dibangun kembali tahun 2017. Pada 19 Februari 2018 masjidnya mulai diresmikan," jelasnya.

Masjid Al-Amin dulunya menjadi pusat kegiatan masyarakat Kinahrejo. Mulai dari pengajian, perkumpulan warga maupun TPA anak-anak.

Pindah ke Huntap

Namun, setelah tahun 2011 warga mulai dipindah ke Hunian Tetap (Huntap) di Pelemsari, Umbulharjo, Sleman, masjid ini menjadi sepi dan hanya diperuntukkan menjadi mushola oleh para pengunjung wisata yang datang ke Petilasan Mbah Maridjan maupun Museum.

Adapun kegiatan warga yang dilakukan di masjid ini hanyalah pengajian setiap 35 hari sekali, yakni pada malam Minggu Kliwon.

"Sekarang di Huntap telah ada masjid yang dinamai juga dengan Al-Amin seperti masjid yang ada di Kinahrejo. Sedangkan masjid di Kinahrejo sekarang hanya untuk mushola dan jarang ada kegiatan karena warga juga sudah tidak tinggal disana sekarang. Paling pengunjung yang datang ke Petilasan yang salat di sana," ungkapnya.

Mas Asih menjelaskan, saat ini hanya 2 kepala keluarga yang tinggal di dekat Masjid di atas Pasir. Sedangkan masyarakat yang lain hanya melakukan aktivitas di sekitar masjid pada siang hari.

Mengenai arsitektur masjid, Mas Asih mengatakan jika masjid ini dibentuk seperti halnya Masjid Sunan Kalijaga yang memiliki empat tiang menyangga yang terbuat dari kayu.

Dia juga menjelaskan, dulunya Gus Dur juga sempat mendatangi masjid ini ketika Erupsi tahun 2006.

"Erupsi tahun 2006 Gus Dur pernah silaturahmi dengan Mbah Marijan di masjid ini, beliau memberikan bantuan untuk masjid ini,” imbuhnya.

Mas Asih berharap, dengan diresmikannya masjid ini beberapa bulan lalu, bisa kembali diisi dengan kegiatan-kegiatan seperti dulu kala.

"Bangunannya kan sekarang sudah ada lagi. Pinginnya bangun isinya, yakni sebagai wadah kegiatan bagi masyarakat. Ada pengajian maupun TPA lagi seperti dulu," terangnya. (siti umaiyah)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved