Kisah Dua Jam dan Dua Abdi Dalem Masjid Pajimatan Imogiri

Letak Masjid Pajimatan Imogiri berada di sisi kiri di jalan menuju makam tepat sebelum pengunjung melewati ratusan anak tangga yang terkenal

Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta

Masjid Pajimatan Imogiri

Kesederhanaan masjid ini terlihat dari tembok bangunan yang berwarna putih polos lalu atap seng ditopang dengan tiang dari kayu. Nyaris tak ada desain arsitektur mencolok di bagian masjid.

Sebelum menjadi seperti sekarang, konon dahulunya masjid ini dibangun dengan struktur utama kayu jati. Tembok dibuat dari susunan batu bata dibalut adonan pasir, kapur dan batu bata yang dihancurkan. Ada kolam di bagian muka masjid, tapi kini tak lagi difungsikan.

Sementara bagian atap yang dulunya dipakai bahan genteng sirap, kini diganti seng bergelombang dicat cokelat dengan tetap memakai bentuk limasan.

Masuk ke dalam, tampak bedug berdiameter satu meter di sudut kiri-depan masjid. Sementara sudut kanan, tampak mimbar kayu untuk khatib.

“Tidak banyak yang berubah dari masjid ini. Sejak saya kecil ya seperti itu. Kami dari takmir dan warga sekitar selalu merawat masjid. Bagi kami, Masjid Pajimatan Imogiri adalah tempat kami beribadah dan menjadi simbol sejarah yang sangat kuat,” kata salah satu Takmir Masjid Pajimatan Imogiri, Abdul Ghani.

Abdul Ghani yang sudah sejak tahun 1961 menjadi takmir masjid ini punya banyak cerita selama datang berkunjung dan beribadah ke Masjid Pajimatan Imogiri yang lokasinya juga tak jauh dari kediamannya itu.

Sebagian, berupa cerita berbau mistis yang akan selalu ia ingat sampai kapanpun. Satu yang ia ingat, adalah ketika ia melihat sekumpulan anak kecil tanpa pakaian yang bermain di tangga masuk masjid.

Padahal kala itu waktu menunjukan pukul 01.00 dini hari. Ketika Abdul sedang berada di masjid. Hanya dalam satu kedipan, anak-anak kecil itu hilang dari pandangan mata.

Selain kejadian mistis yang ia temui, ada hal lain yang membuatnya selalu memaknai Masjid Pajimatan Imogiri dengan sudut pandang beda. Yaitu sejarah Masjid yang tak bisa dipisahkan dari Kerajaan Mataram.

Sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta masih tersisa di masjid ini.

“Sisa kelicikan penjajah saat memecah belah Kerajaan Mataram saat itu memang masih terasa. Di masjid ini ada dua jam berukuran besar. Satu dari Kasultanan Yogyakarta dan satu lagi dari Kasunanan Surakarta. Masing-masing dipasang di sudut kanan dan kiri beranda masjid,” kata Abdul.

Pagar masjid, bedug dan lemari masjid diketahui juga dibuatkan oleh Yogyakarta dan Surakarta.

Imam masjid, dulunya, menurut Abdul juga bergantian, dengan status imam dari Surakarta dan Yogyakarta. Tapi itu, terjadi ketika penjajahan Belanda masih begitu kuat di Indonesia.

Selain itu, abdi dalem yang berjaga juga ada dua. Meskipun kedua abdi dalem berasal dari warga setempat, namun status mereka adalah abdi dalem dari Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Gaji kedua abdi dalem juga dibayar oleh masing-masing keraton, Yogyakarta dan Surakarta.

Tapi pandangan Abdul, perbedaan yang terlihat baik dari dua buah jam maupun dua abdi dalem yang berbeda tak lebih dari sisa kelicikan penjajah ketika dahulu memecah Kerajaan Mataram.

Selebihnya, perbedaan itu menjadi simbol sinergi antara Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Lebih dari itu, masyarakat sekitar masjid juga memaknai keberadaan masjid sebagai media pemersatu.

Karena kompleks masjid ini masuk dua wilayah berbeda. Bangunan masjid masuk wilayah Dusun Pajimatan, Girirejo, Imogiri sementara pelataran masjid masuk wilayah Dusun Kedung Buweng, Wukirsari, Imogiri.

“Masyarakat dua desa bersama takmir sama-sama merawat masjid dan memanfaatkan masjid ini untuk beribadah dan melakukan tadarus bersama. Masjid itu pemersatu kami,” kata pria berambut putih yang kini telah berusia 72 tahun tersebut. (susilo wahid)

Halaman
Penulis: sus
Editor: iwe
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved