Ramadan 1439 H
Berbagi Pengalaman Puasa 18 Jam di Luar Negeri
Bagi umat Muslim yang tinggal di luar negeri, puasa menjadi momen dan memberi kesan tersendiri bagi mereka yang menjalankan puasa.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Bagi umat Muslim yang tinggal di luar negeri, puasa menjadi momen dan memberi kesan tersendiri bagi mereka yang menjalankan puasa.
Terlebih bagi mereka yang tinggal di negara di mana umat Islam menjadi minoritas.
Seperti yang dialami oleh Erizal Lugman, warga Karangkajen Yogyakarta yang sudah dua tahun hidup di Inggris untuk bersekolah di sana.
Ia pun merasakan dua kali Ramadan di sana.
"Alhamdulillah, atas kehendak Allah, ini adalah tahun kedua saya berada di UK, yang dimana saya di beri kesempatan untuk menuntut ilmu di negeri ratu Eliazabeth ini," ujar pria yang saat ini tinggal di Collindale, North London.
Saat ditanya tentang perbedaan puasa di Indonesia dan di luar negeri, pria yang akrab disapa Erik ini mengatakan bahwa negara barat dimana Muslim adalah minoritas tidak bisa disamakan suasana Ramadan di Indonesia.
Akan tetapi seiringnya berkembangnya agama Islam di Eropa khususnya di Inggris, kini sudah banyak masjid yang sudah berdiri di London.
Kendati tidak seperti di Indonesia, namun suasana Ramadan di Inggris cukup terasa.
Hal itu lantaran di sana banyak masjid yang menyediakan buka bersama, salat tarwih dan bahkan sahur bersama setiap harinya.
Diungkapkannya, karena saat ini di sana sedang musim panas, puasa di Inggris cukup panjang yakni berlangsung 18 jam.
Dari kisaran pukul 3 pagi hingga 9 malam.
"Untuk saur saya masak sendiri, kadangpun kepepet tidak saur karena ketiduran, disebabkan hanya sedikit sekali jam tidur, dan buka puasa biasanya ke masjid," ucapnya.
Erik mengaku kangen dengan suasana Ramadan di Indonesia, terlebih saat ini ia tergabung di grup Whatsapp teman-teman SMA dan kuliah yang selalu mengirimkan agenda buka bersama.
Momen kebersamaan itu yang ia rindukan selain tentunya makanan khas Indonesia dan suasana tarawih di Indonesia.
"Karena di sini Muslim sebagai minoritas jadi ya kita harus mandiri untuk mencari suasana Ramadan, seperti kita harus sering ke masjid untuk berjumpa dengan teman-teman muslim. Dan Alhamdulillah supermarket besar disini sudah banyak tulisan-tulisan seperti Ramadan Mubarak, artinya bulan suci Ramadan sudah mulai dikenal di kalangan masyarakat luas," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/erizal-lugman_20180605_232114.jpg)