Kisah Mengerikan Para Penyintas Kecelakaan Pesawat di Pegunungan Andes
Sebuah kecelakaan pesawat mengerikan di atas pegunungan Andes. Dari 45 orang yang ada di dalam pesawat, hanya 16 orang saja yang selamat
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM - Memakan daging manusia adalah hal yang sangat tabu untuk didengar apalagi dilakukan. Namun sejumlah penumpang pesawat ini terpaksa memakan mayat yang baru saja meninggal dunia untuk bertahan hidup.
Sebuah kecelakaan pesawat mengerikan terjadi 40 tahun lalu di atas pegunungan Andes. Dari 45 orang yang ada di dalam pesawat, hanya 16 orang saja yang selamat.
dr Roberto Canesa adalah salah satu penumpang yang selamat dalam kejadian itu. Pada tahun 1972, Canesa merupakan mahasiswa jurusan kedokteran di Montevideo Uruguay.
Saat itu, ia dan tim dari Sekolah Tinggi Christian Brother akan mengikuti pertandingan rugby di Chile. Tawa dan canda saat berangkat berubah menjadi mimpi buruk setelah pesawat mengalami turbulensi.
Meskipun pilot sudah berusaha mendorong pesawat ke atas, tetapi itu tak dapat dilakukan. Kecelakaan pun tak terhindarkan dan sayap pesawat menghilang ke puncak gunung.
Canesa yang saat itu masih berusia 19 tahun mendengar suara mengerikan diikuti ledakan yang menghancurkan. Pesawat menabrak gunung dan meluncur dengan cepat karena tak meledak.
Kursi penumpang pun meluncur dan menabrak setiap kursi di depannya sampai ke kokpit. Ia mendengar suara erangan dan teriakan dari korban cedera.
Saat itu, Canesa melihat badan pesawat terbuka lebar dan ada pegunungan di sekitar. Awalnya ia menyangka bila jatuh di posisi rendah, tetapi kenyataannya lebih mengerikan karena jatuh di pegunungan yang cukup tinggi.
"Saya berbalik untuk melihat teman lama saya Gustavo Zerbino. Ia masih hidup. Kami memanjat melalui reruntuhan pesawat yang bengkok dan hancur," urai Cavesa seperti dikutip dari dailymail.co.uk, Sabtu (20/2/2016).
Hari-hari setelah itu merupakan saat yang sulit. Mereka harus bertahan di daerah salju di mana tidak ada tumbuhan ataupun hewan yang hidup.
Cavesa dan yang lain berusaha menemukan bahan-bahan makanan di pesawat untuk bertahan. Namun setelah habis, kondisinya menjadi semakin sulit.
Mereka sempat mendengar jet terbang diikuti oleh pesawat baling-baling kecil. Para survivor menyangka bila jet itu melihat mereka sehingga mereka melompat, menjerit dan menangis dengan penuh harap.
Namun sayangnya, bantuan tidak datang hari itu juga maupun keesokannya lagi. Mereka membangun optimisme dalam diri bahwa bantuan yang datang hanyalah soal waktu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/survivor4_20160220_151840.jpg)