Ramadan 1439 H
BBPOM Sidak Pasar Sore Nitikan, Hasilnya Negatif
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta melakukan inspeksi mendadak di Pasar Sore Ramadan sepanjang Jalan Nitikan, Umbulharjo.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta melakukan inspeksi mendadak di Pasar Sore Ramadan sepanjang Jalan Nitikan, Umbulharjo, Yogyakarta Kamis (24/5/2018).
Dalam sidak tersebut BBPOM mengambil 19 sampel.
Sampel yang diambil antara lain ikan teri, ikan gembung, otak-otak, bakso tahu, dan minuman-minuman.
Kepala Balai Besar POM Yogyakarta, Sandra MP Linthin mengatakan dari sampel tidak ada yang mengandung bahan berbahaya.
Bahan berbahaya yang dikhawatirkan antara lain rhodamin b, metanil yelloe, formalin, dan borak.
"Kami tadi langsung uji dengan rapid tes. Dari 19 sampel, hasilnya negatif dari pewarna tekstil dan bahan berbaya lain. Berarti kan kesadaran pedagang sudah baik," kata Sandra.
Sidak tersebut dilakukan karena pihaknya takut makanan yang dijajakan ditambah dengan bahan berbahaya.
Meskipun efek samping tidak bisa terlihat, namun bahan-bahan tersebut bisa menumpuk, dan mengakibatkan kanker.
"Takutnya dikasih bahan berbahaya. Memang efeknya tidak saat itu juga, tetapi nanti 3-4 tahun kalau menumpuk bisa jadi kanker, kan rhodamin b, metanil yelloe, formalin, dan borak salah satu penyebab kanker," lanjutnya.
Selama Ramadan, BBPOM akan melakukan sidak ke delapan pasar sore Ramadan.
Pasar sore Nitikan menjadi tempat ketiga, sebelumnya sudah dilakukan di Kotagede dan Kulonprogo dan hasilnya negatif.
"Sebelumnya kami juga lakukan ke pasar-pasar, dari 5 pasar yang kami lakukan inspeksi, semua jenis teri dan kerupuknya mengandung formalin dan rhidamin b. Dinas Perdangan Sleman melakukan inspeksi ke 15 pasar, ada 13 yang ditemukan. Makanya kami perlu lakukan inspeksi," ungkapnya.
Terkait dengan formalin, pihaknya perlu melakukan tes lebih lanjut di laboratorium.
Rapid tes hanya bisa menunjukkan postif atau negatif saja.
"Fomalin kan ada di alam. Nah itu kita perlu tahu memang dari alam atau sengaja dicampuri, nah itu perlu tes di laboratorium yang alatnya lebih canggih,"ungkapnya. (*)