Nasional

Kisah di Balik Mundurnya Soeharto pada 21 Mei 1998

Soeharto jatuh pada 21 Mei 1998, setelah mendapat desakan massa, terutama mahasiswa yang menginginkan pergantian kepemimpinan nasional.

Editor: Ari Nugroho
WIkimedia/Creative Commons
Presiden Soeharto saat mengumumkan pengunduran diri di Istana Merdeka, Jakarta, 21 Mei 1998. 

Suasana bimbang ini baru sirna setelah Habibie menyatakan diri siap menerima jabatan Presiden," ujarnya.

Baca: Surat Perintah Tiga Belas Maret, Cara Soekarno Koreksi Kesalahan Soeharto Interpretasi Supersemar

Selanjutnya, pada pukul 23.00 WIB, Soeharto pun memanggil ahli hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra, Mensesneg Saadilah Mursjid, serta Panglima ABRI Wiranto.

Soeharto berbulat hati menyerahkan kekuasaan kepada Habibie.

Konsultasi mengenai prosesi pergantian kepemimpinan pun dilakukan.

Kemudian, sekitar pukul 23.20 WIB Yusril bertemu Amien Rais.

Dalam pertemuan itu, Yusril menyampaikan rencana Soeharto untuk mundur pada 21 Mei 1998, sekitar pukul 09.00 WIB.

Dalam bahasa Amien, kata-kata yang disampaikan oleh Yusril itu, "The old man most probably has resigned" (Orang tua itu kemungkinan besar mundur).

Pada Kamis dini hari itu, pukul 01.30 WIB, Amien Rais menggelar jumpa pers.

Saat itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menyampaikan informasi yang disampaikan Yusril.

"Selamat tinggal pemerintahan lama, dan selamat datang pemerintahan baru," ucap Amien.(TRIBUNJOGJA.COM)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenang Puncak Kegalauan Soeharto Sebelum Memutuskan Mundur...", https://nasional.kompas.com/read/2018/05/21/08210831/mengenang-puncak-kegalauan-soeharto-sebelum-memutuskan-mundur?page=all.
Penulis : Bayu Galih
Editor : Bayu Galih

Sumber: Kompas.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved