Lifestyle
Film Simbiosis Angkat Ketidakadilan yang Diterima Nelayan Pangandaran
Film Simbiosis menceritakan kehidupan seorang Rukman Supriatna atau yang sering di panggil Pak Anang, nelayan tradisional di pangandaran Jawa Barat
Penulis: Santo Ari | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM - Kebijakan pemerintah sering kali merugikan nelayan tradisional.
Bahkan mereka kerap dijadikan obyek eksploitasi para pemilik modal.
Salah satu kebijakan yang merugikan tersebut adalah Usaha Simpan Pinjam (USP) yang sudah ditiadakan oleh Koperasi Unit Desa (KUD).
Kondisi itu memaksa nelayan tradisional Pangandaran terjebak dalam sistem yang salah.
Adalah film dokumenter berjudul Simbiosis, yang menceritakan kehidupan seorang nelayan di Pangandaran. Sutradara Achmad Rezi Fahlevi ingin menggambarkan kehidupan nelayan Pangandaran secara jujur.
Itulah mengapa ia memilih film bergenre dokumenter untuk mengangkat masalah ini ke permukaan.
Baca: Sungguh Kasihan! Wanita Tua Berpenyakitan Dibuang Keluarganya dari Karanganyar ke Pangandaran
Film Simbiosis menceritakan kehiudpan seorang Rukman Supriatna atau yang sering di panggil Pak Anang, nelayan tradisional di pangandaran Jawa Barat.
Setiap ingin pergi melaut ia harus meminjam modal kepada juragan untuk melaut dikarenakan (USP) usaha simpan pinjam sudah tidak ada lagi di koperasi unit desa (KUD) minasari.
Sementara sistem pembagian hasilnya 70% untuk juragan dan 30% untuk nelayan yang melaut, 30% itu pun harus dibagi lagi dengan kerabat kerjanya yang ikut melaut.
"Dari sana, kita bisa melihat akhirnya nelayan tradisional jadi objek eksploitasi oleh para pemilik modal," ujarnya.
Film berdurasi 13 menit ini adalah paket lengkap bagaimana menyelami kehidupan seorang nelayan, mulai bangun tidur, pinjam uang ke juragan, melaut, hingga keseharian di luar melaut seperti jualan di rumah.
Baca: Mencekam, Inilah Rekaman Video Puting Beliung di Pangandaran
Diceritakan, keadaan ini yang membuat Pak Anang harus mencari pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dengan cara berjualan makanan ringan di depan rumahnya dan bahkan ia dan istri harus berjualan umang setiap hari Sabtu dan Minggu.
Riset film simbiosis ini dimulai dari bulan September 2017 sampai bulan Maret 2018.
Rezi dan tim yang merupakan mahasiswa Fisipol UMY jurusan ilmu komunikasi ini dua hingga tiga kali setiap bulannya harus pergi ke Pangandaran untuk riset di sana.
Untuk kemudian melalukan proses produksi selama seminggu di sana.
"Untuk kendalanya itu terutama waktu yang harus terbagi dengan kuliah yang lain, pendanaan, dan jarak lokasi yang harus kami tempuh sekitar enam jam dari Yogyakarta," ujarnya.
Baca: Ada yang Gerak-gerak di Dalam Perut Bangkai Ikan Hiu, Begitu Dibedah Si Nelayan Kaget!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/film-simbiosis-1_20180519_171638.jpg)