Begini Kata Pengamat Tentang Dampak Libur Panjang Lebaran
Bhima menyebutkan, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi 56 persen terhadap PDB.
TRIBUNJOGJA.COM - Kebijakan pemerintah untuk menambah libur Lebaran menjadi sepuluh hari dinilai pengamat ekonomi dapat mempengaruhi produktivitas masyarakat.
Kebijakan libur panjang ini dinilai dapat mempengaruhi penerimaan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi bisnis perdagangan dan investasi yang mempengaruhi hingga 71 persen komponen PDB.
"Cuti yang terlalu lama sebenarnya trade off. Di satu sisi, pemerintah ingin mendorong konsumsi masyarakat dan sektor ritel, tapi efek ke industri manufaktur, ekspor dan aktivitas bisnis lain secara umum menurun," ucap Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) Bhima Yudhistira, kepada Kontan, Kamis (19/4/2018).
Bhima menyebutkan, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi 56 persen terhadap PDB.
Kemudian, dengan bertambahnya libur dapat meningkatkan belanja dan pengeluaran masyarakat terutama dalam momen libur Lebaran.
Tetapi dari sisi lain, pengeluaran ekspor juga memberikan kontribusi kepada PDB sebesar 20 persen, investasi langsung 32 persen, dan impor 19 persen.
Sehingga bila ditotal, kerugian dari libur Lebaran yang terlalu panjang bisa pengaruhi 71 persen komponen PDB.
Asal tahu saja, penambahan cuti Lebaran merupakan hasil keputusan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani dalam penandatanganan SKB tiga Menteri yang memutuskan libur Lebaran akan berlangsung sepuluh hari, dari tanggal 11-20 Juni 2018.
Alasannya adalah untuk mengurangi kepadatan lintas akibat mudik yang dilakukan oleh masyarakat dan pegawai negeri.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pengamat: Libur Lebaran Terlalu Lama Bisa Bikin PDB Susut"