Pendidikan
Mahasiswa Arsitek UAJY Peduli Keberlanjutan Lingkungan
Sebagai implementasi tema dalam event ini, mereka pun menggunakan barang-barang bekas yang dapat di daur ulang dalam membuat karya.
Penulis: Santo Ari | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Prodi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menggelar rangkaian kegiatan dalam event besar Sepekan Arsitektur dengan tema "Sustainable."
Salah satunya adalah pameran akbar dengan sub tema Linimasa di Sangkring Artspace yang berlangsung 15-20 April.
Berbagai karya dari mahasiswa arsitektur UAJY dan beberapa kampus lain di Yogya ditampilkan dan menjadi bahan koreksi diri bagaimana perkembangan arsitektur dulu, dan saat ini.
Agatha Hesturini, (mahasiswa Arsitek 2015) selaku ketua pameran ini mengatakan konsep besar dalam pameran kali ini adalah sustainable atau berkelanjutan.
Dan linimasa menggambarkan perjalanan gaya aristektur dengan ciri khas di dalamnya.
Baca: Sepekan Arsitektur Libatkan Masyarakat dalam Berbagai Acara
Oleh karenanya dalam pameran, ruang pameran dibagi menjadi tiga zona.
Mulai dari zona tradisional yang menampilkan maket bangunan dari lima pulau besar di Indonesia.
Zona kedua adalah zona modern dengan pemakaian material yang lebih modern sehingga menambah kreasi seni pada bangunan arsitektur.
"Namun apakah selaras dengan lingkungan? lantas bagaimana caranya mengolah material agar selaras dengan lingkungan?" ucapnya saat ditemui Senin (16/4/2018).
Dan jawaban dari itu adalah zona mix modern yang menggabungkan unsur modern dan trasdisional.
Dengan penggabungan keudak unsur tersebut, terciptalah bangunan dengan konsep alam yang sangat dekat dengan masa kini.
"Sesungguhnya penggabungan itu baik adanya. Karena itu kami sepakat dengan slogan don't design for designers, design for people," ujarnya.
"Jadi arsitek sesungguhnya bukan bagus untuk visualnya saja, tapi harus nyaman dengan orang di dalamnya," tambah Agatha.
Baca: Bincang Arsitektur Bersama Yu Sing di Klinik Kopi
Sementara itu, wakil ketua Sepekan Arsitektur, Christo Imantaka (Mahasiswa arsitektur 2016), mengatakan dipilihnya tema besar sustainable lantaran pihaknya ingin menggambarkan bahwa arsitektur secara tidak langsung berperan untuk menjaga bumi.
Ia ingin mengajak agar para arsitektur lebih banyak menggunakan material-material yang ramah lingkugan.
Sebagai implementasi tema dalam event ini, mereka pun menggunakan barang-barang bekas yang dapat di daur ulang dalam membuat karya.
Di lomba mural, peserta berkarya melalui tong bekas obat, kemudia maket yang digunakan dalam pemeran juga dari material yang sustainable.
"Dari segi lokalitas, kami ingin menyadarkan masyarakat tentang keberlanjutan bumi kita. Dari segi arsitektur, jelas Indonesia memiliki bahan-bahan yang ramah lingkungan dan tetap kuat seperti bambu," ulasnya.
Menurutnya, bangunan adat yang di Indonesia dibangun dengan prinsip sustainable.
Namun hal itu semakin ditinggalkan, dan mereka yang membangun sebuah rumah atau gedung hanya mencara praktis dan cepat, tapi kesadaran akan keberlanjugan lingkungannya berkurang.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sepekan-arsitektur-uajy_20180416_201119.jpg)