Bisnis
Musisi Semakin Mudah Mencari Pasar di Era Digital
Kalau dilihat lebih jauh, kondisi ini juga berpontensi menurunkan angka pembajakan yang selama ini sulit dikendalikan.
TRIBUNJOGJA.COM - Perubahan terjadi pada industri musik di Indonesia.
Hal ini tak lepas dari perkembangan teknologi dan aplikasi musik digital yang begitu pesat.
Perubahan tersebut tak hanya terjadi pada para penikmat musik, tapi juga pada para musisinya.
Salah satu perubahan yang paling mencolok nampak pada kemudahan bagi pemusik untuk menjajakan berbagai produknya.
Menurut Iga Massardi, vokalis sekaligus gitaris Barasuara, adanya aplikasi musik digital, para musisi makin cepat, mudah dan murah juga dalam menyebarkan karya-karyanya ke pendengar di mana pun.
Terutama dalam segi promosi lagu dan album baru, pendengar atau penikmat musik bisa lebih cepat mendapatkan lagu terbaru dari Barasuara dalam hitungan jam, bahkan menit.
“Misal, kami selesai edit lagu baru jam 1 pagi, nanti sekitar jam 2 atau 3 pagi, kami sudah bisa rilis di aplikasi digital," ujar dia.
Lebih cepat dan tentu murah.
Ia menyebut, untuk promosi awal, aplikasi musik digital memang sangat efektif.
Ia pun menilai, perkembangan teknologi di era digital seperti saat ini ini merupakan peluang yang sangat baik bagi industri musik tanah air untuk berkembang.
Baca: Album Baru NonaRia Suguhkan Alternatif di Tengah Seragamnya Industri Musik Indonesia
Pelaku industri musik lainnya yang memanfaatkan media digital dalam pengembangan bisnisnya adalah Endank Soekamti.
Setelah lepas dari label Nagaswara Music, band asal Yogyakarta ini membuat official website, record labeldan production house sendiri, yakni Euforia Records serta Euforia Audio Visual.
"Era digital membuat kami menjadi mandiri dalam hal penjualan," jelas Feri Winarno, Manager Endank Soekamti yang lebih akrab disapa Ulog.
Selain kedua band indie tersebut, Efek Rumah Kaca juga menggunakan sejumlah toko digital dalam mendistribusikan lagunya.