BPBD Curigai Koneksi Antar Rekahan Tanah di Pebrukitan Menoreh

Hingga 12 Maret 2018 tercatat ada delapan kejadian tanah longsor, dua pergerakan tanah, dan satu kejadian pohon tumbang.

Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Singgih Wahyu
Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Gusdi Hartono menjelaskan sebaran wilayah berpotensi bencana tanah longsor. 

TRIBUNJOGJA.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo akan mengkaji sejumlah rekahan tanah yang muncul Perbukitan Menoreh secara parsial.

Dikhawatirkan rekahan-rekahan itu saling terkoneksi hingga memunculkan potensi bahaya tanah longsor besar dengan area terdampak cukup luas.

Tercatat, retakan tanah kawasan perbukitan muncul di beberapa kecamatan. Di antaranya di Pedukuhan Jeruk, Desa Gerbosari dan Desa Ngargosari (Samigaluh); Pedukuhan Nogosari, Desa Purwosari (Girimulyo); Pedukuhan Gerpule, Desa Banjarharjo dan Pedukuhan Klepu, Desa Banjararum (Kalibawang); hingga retakan di Pedukuhan Soropati, Desa Hargotirto (Kokap).

Adapun pada tahun ini, kajian bakal difokuskan pada tiga titik rekahan tanah di perbukitan wilayah Gerpule, Klepu, dan Ngargosari sedangkan titik lain akan dikaji pada tahun berikutnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Gusdi Hartono mengatakan, beberapa rekahan tanah itu tidak muncul baru-baru ini melainkan sudah sejak bertahun-tahun lalu.

Bentuk rekahan cenderung memanjang sehingga dikhawatirkan bisa membawa dampak cukup besar.

Pun selama ini masih terjadi pergerakan struktur tanah yang terus berlanjut meski beberapa sudah diatasi. 

Dari aspek sejarah geologis, Perbukitan Menoreh menurutnya tersusun dari struktur batuan lapuk yang rentan dan gampang mengalami pergerakan.

Pihaknya mencurigai semua titik rekahan itu sebetulnya saling terkoneksi meski kemunculannya bersifat parsial. 

"Kami menengarai semuanya saling berhubungan dan punya potensi sliding (longsor berbentuk luncuran), bukan lagi berbentuk rockfall (longsor guguran). Kalau sliding, dampaknya bisa fatal dengan area lebih luas. Maka itu perlu kajian menyeluruh terhadap semua rekahan itu," kata Gusdi, Rabu (14/3/2018).

Pihaknya akan menggandeng akademisi geologi dalam rencana kajian tersebut.

Jika terbukti ada konektivitas antar rekahan itu, langkah kontijensi lanjutan akan disiakan lebih komprehensif. 

Harapannya, kajian akan memunculkan rekomendasi, langkah yang harus dilakukan atau ditindaklanjuti oleh segenap pihak terkait berdasarkan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

"Termasuk untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat serta penyusunan langkah relokasi. Kami tidak ingin kecolongan seperti terjadi di Brebes atau di Soropati dan Gerpule," kata Gusdi.

Adapun selama 2017, tercatat ada 995 titik kejadian bencana di mana tanah longsor cukup banyak terjadi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved