Bekraf Buka Keran Kerjasama untuk Atasi Problem Permodalan

Industri start up adalah salah satu yang digadang gadang menjadi motor penggerak roda perekonomian zaman milenial.

Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Yudha Kristiawan
Direktur Akses Non Perbankan Bekraf, Syaifullah memberikan sambutan dalam workshop Get Funded di Jogja Digital Valley, Seni (12/3/18) 

Laporan Reporter Tribun Jogja Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Potensi industri kreatif di tanah air terus dibidik oleh pemerintah untuk dikembangkan melalui berbagai program.

Industri start up adalah salah satu yang digadang gadang menjadi motor penggerak roda perekonomian zaman milenial.

Pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif nya terus mendorong berkembangnya industri start up di tanah air.

Kali ini, melalui sebuah workshop bertajuk Get Funded, Bekraf memfasilitasi para pelaku industri start up
meningkatkan kapasitas pengusaha rintisan startup di enam belas subsektor ekonomi kreatif dalam mengakses sumber permodalan non perbankan.

Ditemui di sela acara yang digelar di Jogja Digital Valley, Senin (12/3/18), Direktur Akses Non Perbankan Bekraf, Syaifullah menuturkan, melalui acara yang sebelumnya digelar di dua kota yakni Jakarta dan Batam ini, Bekraf memfasilitasi lebih dari 100 startup untuk mendapatkan informasi dari praktisi, entrepreneur, sekaligus mentor cara mengakses dan mendapatkan permodalan dari lembaga pembiayaan non perbankan.

Baca: Bekraf Sosialisasikan Akses Pembiayaan Non Perbankan Bagi Pelaku Usaha Ekonomi Kreatif dan Starup

Syaifullah menyebutkan, meski tumbuh pesat, namun hampir 90 persen lebih start up di tanah air mengalami failed alias kegagalan di tahun pertama.

Penyebab utama tumbangnya para pelaku bisnis start up ini lantaran banyak yang masih belum memahami secara holistik bagaimana membangun bisnis start up.

" Permodalan menjadi salah satu kendala utama startup Indonesia dalam memulai maupun mengembangkan bisnis mereka. Ada juga yang sebenarnya, star up sudah stabil, dapat permodalan besar, tapi selanjutnya malah bingung mau diapakan modal tersebut. Inilah yang menjadi problematika lain," terang Syaifullah.

Baca: Dunia Startup Memacu Marsela Citra Arsetya untuk Berkreasi

Lanjut Syaifullah, dalam catatan Bekraf, 90 persen modal yang digunakan para pelaku industri start up berasal dari modal sendiri.

Mereka rata rata belum menjadikan lembaga keuangan sebagai peluang sumber permodalan lantaran terbatas informasi dan beberapa faktor lainnya.

Sebaliknya, lembaga pembiayaan yang berpotensi memberikan permodalan terhadap para pelaku industri start up yang potensial untuk dikembangkan, juga memiliki informasi yang terbatas tentang kualitas start up yang bersangkutan.

Untuk itulah, melalui program ini, Bekraf berusaha memaksimalkan potensi kerjasama yang bakal dijalin antara pelaku industri start up dan lembaga keuangan.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved