Lipsus KMS Yogyakarta

Akurasi Data Kependudukan Perlu Ditingkatkan

Data kependudukan yang akurat dan selalu update menjadi basis penting dalam pengambilan kebijakan publik, termasuk kebijakan sosial seperti KMS

Akurasi Data Kependudukan Perlu Ditingkatkan
http://fisipol.ugm.ac.id
Dr Erwan Agus Purwanto 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Saat ini tidak ada data kependudukan yang akurat (single identity).

Sehingga, menjadi sulit untuk memetakan posisi penduduk berdasarkan pendapatannya yang dapat digunakan untuk dua tujuan, yaitu pengenaan pajak (sekarang dengan NPWP).

Dan, apabila pendapatannya tidak masuk kategori yang terkena pajak maka justru eligible untuk mendapat bantuan sosial seperti KMS.

Hal tersebut disampaikan oleh Dekan Fisipol UGM, Dr Erwan Agus Purwanto kepada Tribun Jogja pekan lalu.

Ia menjelaskan, data kependudukan yang akurat dan selalu update menjadi basis penting dalam pengambilan kebijakan publik, termasuk kebijakan sosial seperti KMS.

Akibat tidak akuratnya data tersebut, pemerintah dan masyarakat justru dirugikan dari dua sisi.

"Pertama, wajib pajak yang mestinya membayar pajak menjadi tidak terdata pendapatannya dan tidak berkontribusi memberikan sumbangan pendapatan negara. Kedua, warga miskin yang pendapatannya sudah layak dan tidak eligible lagi untuk mendapatkan bantuan tidak terdata kenaikan pendapatannya dan terus menerus masih dibantu oleh pemerintah, seperti dalam kasus KMS di kota Yogyakarta," paparnya.

Dalam kondisi yang ideal di atas belum terwujud, lanjut Erwan, satu-satunya harapan hanya meminta masyarakat untuk jujur agar hanya menerima bantuan apabila berhak.

"Sebanyak 62 Kepala keluarga yang enggan didata dan menerima KMS ini, patut diapresiasi karena mereka termasuk golongan masyarakat yang jujur dan tidak mau menerima bantuan yang menurut mereka bukan haknya," katanya.

Sementara, persoalan data di atas hanya dapat dipecahkan apabila pemerintah Indonesia mampu segera mewujudkan e-KTP menjadi single identity number yang dapat dipakai sebagai alat untuk mendapatkan data, tidak hanya yang statistik, namun juga data yang dinamis seperti pendapatan, migrasi, status perkawinan, dan lainnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: sis
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved