Ahli Sejarah Kuno Ini Ingin Populerkan Auto dan Filoepigrafi

Djoko Dwiyanto sudah mengabdi selama 36 tahun sebagai pengajar di jurusan arkeologi UGM.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Setya Krisna Sumargo
Djoko Dwiyanto saat peluncuran dan diskusi buku karyanya, Refleksi Penelitian Epigrafi dan Prospek Pengembangannya di University Club UGM, Selasa (6/3/2018) malam. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ahli sejarah kuno atau masa klasik, Dr Djoko Dwiyanto, ingin mempopulerkan dua jenis penerapan ilmu epigraf.

Pembacaan prasasti kuno tidaklah semata hanya menerjemahkan teks, namun juga si pembaca atau epigraf harus menggunakan pengalaman dan pemahaman diri sendiri supaya nantinya dinilai peneliti lain.

Keinginan dan dorongan ini disampaikan Djoko Dwiyanto saat peluncuran dan diskusi buku karyanya, Refleksi Penelitian Epigrafi dan Prospek Pengembangannya.

Acara ini sekaligus pelepasan Djoko Dwiyanto yang akhir bulan ini purna tugas alias pensiun dari tugas-tugas sebagai pegawai negeri.

Acara digelar di University Club UGM, Selasa (6/3/2018) malam.

Hadir sejumlah guru besar emiritus UGM, civitas akademika FIB UGM, keluarga Djoko Dwiyanto dan kolega-koleganya.

Epigraf dan pakar sejarah Hindu/Buddha ini mengemukakan, penelitian sejarah berbasis kesusastraan sudah dilakukan sejak bertahun lalu.

Namun kerap mendapat kritikan belum mendapatkan dasar keilmuan yang kokoh. Ia mencontohkan penulisan sejarah berbasis naskah Negara Krtagama dan Pararaton.

"Ada yang meragukan kitab itu mencatat sejarah masa itu, atau ungkapan pujangga untuk mempertahankan kekuasaan," kata  tokoh berusia 65 tahun ini.

Buku karya Djoko Dwiyanto ini diulas Dr Ninny Susanti MA, Ketua Departemen Arkeologi FIB UI, dan dosen yang juga epigraf muda FIB UGM, Tjahjono Prasodjo MA.

Menurut Ninny, apa yang ditulis koleganya ini sangat baik sebagai refleksi kritis dunia epigraf. Pendekatan khusus auto dan filoepigrafi ini sangat membantu memahami secara detail dan ituh sejarah masa lampau.

"Saya pernah meneliti pelabuhan-pelabuhan besar masa lampau, dan sangat terbantu identifikasinya berdasar kajian auto maupun epigrafi kesusastraan," kata Ninny.

Djoko Dwiyanto sudah mengabdi selama 36 tahun sebagai pengajar di jurusan arkeologi UGM.

Satu di antara kontribusi besarnya bagi penulisan sejarah kuno, ia berhasil membaca prasasti Wanua Tengah lll.

Prasasti temuan di Temanggung ini menyebutkan secara rinci urutan penguasa masa Mataram Kuno sejak masa Rakai Sanjaya, lengkap dengan periode kekuasaanya.

Prasasti ini dibuat oleh Sri Maharaja Dyah Balitung Darmodayyamahasambu (bertahta sejak 898 Masehi).(Tribunjogja.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved