Lukisan Puing-puing Candi Mendut Ini Kuak 2 Fakta Mengejutkan 

Karya lukis ini tergarap detil, sangat kuat pengaruh guru lukis lansekapnya, Andreas Schelfhout.

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Kolase lukisan dan foto terkini Candi Mendut 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Maestro lukis Nusantara, Raden Saleh Syarief Boestaman, meninggalkan puluhan mahakarya.

Sebagian karyanya dipamerkan di Galeri Nasional Singapura dari November 2017 hingga Maret 2018 ini.

Pameran ini mengejutkan kurator seni, Sanjaya Kuss Indarto.

Baca: Lukisan Mendut Dibuat di Jawa, Diangkut ke London, Berakhir di Washington DC

Ia sampai tertegun saat menghadiri pameran itu akhir bulan lalu.

"Saya terpaku cukup lama di depan lukisan ini," kata Kuss Indarto kepada Tribunjogja.com, Selasa (20/2/2018).

Kuss Indarto yang juga dikenal karikaturis kritis ini menunjuk lukisan berjudul 'Javanese Temple in Ruins' (Reruntuhan Candi Jawa).

Inilah mahakarya Raden Saleh yang untuk pertama kali dipajang di sebuah lokasi yang sangat dekat dengan tempat asalnya.

Lukisan tersebut berukuran 105,4 x 187 cm, dibuat pada 1860.

"Banyak hal yang membuat saya terpaku di situ, di National Gallery Singapore, akhir Januari lalu. Pertama, lukisan ini eksotik," beber eks karikaturis Harian Bernas era 90an ini. 

Menurut Kuss Indarto, dilukis saat Raden Saleh berusia 49 tahun, dan memperlihatkan kematangannya sebagai pelukis, setelah bertahun-tahun berproses di jantung benua renaisans Eropa. 

Karya lukis ini tergarap detil, sangat kuat pengaruh guru lukis lansekapnya, Andreas Schelfhout.

Pencahayaan langit di lukisan ini seolah dibuat dengan kesadaran ketika ia hidup di Eropa. 

Langit dan tanah yang temaram meski bayang-bayang benda menunjukkan suasana tengah hari.

Ini tak lepas dari pengaruh dua seniman Perancis yang sangat dikaguminya, Horace Vernet dan Eugene Delacroix.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved