Karena Tertimpa Longsor, Hajatan Sunatan dan Pernikahan Warga Purbalingga Ini pun Batal
Sifaul ditemani tiga kerabat seumurannya untuk memberi semangat dia menjelang sunat.
Bibirnya sampai pecah berdarah-darah karena hantaman material dinding rumah. Beruntung nyawanya selamat meski ia harus dilarikan ke Puskesmas.
Syafik tak pernah menyangka bencana itu akan datang. Ia tidak melihat ada petanda alam yang menunjukkan tebing belakang rumah itu runtuh.
Karena itu, hujan lebat sejak Kamis sore hingga malam tak diwaspadainya bakal memicu longsor.
Ia dan 30 an orang yang menghadiri tahlilan di rumah Solikhin tetap tenang dan tak terburu pulang meski acara telah rampung.
"Sebelumnya ada yang ke makam di atas tebing, dan ada yang mencari rumput, namun mereka tidak melihat ada retakan tanah di atas tebing,"katanya
Syafik mengaku masih menyimpan trauma mendalam atas kejadian yang menimpanya. Kengerian bencana itu tidak akan mudah terlupakan.
Ia pun berharap bisa segera direlokasi pemerintah ke tempat yang lebih aman. Syafik dan keluarganya merasa ketakutan untuk kembali ke rumahnya yang berdekatan dengan lokasi longsor.
Meski bangunan rumahnya belum retak, tanah tebing yang labil dan sebagian telah longsor akan selalu menjadi teror bagi keluarganya.
"Saya ingin segera direlokasi, takut kalau suruh tinggal rumah,"katanya. (*/tribun jateng)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/rumah-solikhin_20180223_175703.jpg)