Tanah Gerak, Warga Minta Rumahnya Direlokasi
Bencana tanah bergerak terjadi Sabtu lalu dan berdampak pada kerusakan puluhan rumah di Kampung
TRIBUNJOGJA.COM - Masyarakat terdampak bencana tanah bergerak di Desa Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara, Sukabumi, Jawa Barat, mengharapkan relokasi ke tempat aman dan nyaman.
Bencana tanah bergerak terjadi Sabtu (27/1/2018) lalu dan berdampak pada kerusakan puluhan rumah di Kampung Pasirjambu dan Pasirgerong, antara lain 18 rumah rusak berat dan 38 dalam kondisi terancam.
Masyarakat mengharapkan relokasi ke lahan milik Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi di Kampung Pasirangin. Karena jaraknya tidak terlalu jauh ke lahan-lahan pertanian milik warga terdampak.
Bupati Sukabumi Marwan Hamami mengatakan, penunjukkan lahan relokasi harus mendapatkan hasil kajian dari Badan Geologi untuk penempatannya.
''Bisa saja, kalau nanti penetapannya di situ, tapi harus ada hasil kajian geologinya dulu, boleh tidak di situ,'' kata Marwan kepada Kompas.com di Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Rabu (7/2/2018).
Dia menjelaskan penunjukkan lahan milik negara untuk relokasi ada prosedur yang harus ditempuh. Karena asset negara itu harus bisa dipertanggungjawabkan.
''Dinas Pendidikan harus ditanya dulu, kalau itu memang sudah tidak dimanfaatkan bisa. Juga dalam pengalihan lahan tersebut harus mendapatkan persetujuan DPRD,'' jelas dia.
''Bisa ditukar, tanah masyarakat dibersihkan dimanfaatkan untuk ruangan terbuka hijau dan masyarakat menempati lahan negara,'' sambungnya.
Ketua RT setempat, Saepul Alam mengungkapkan pascabencana pergerakan tanah menginginkan relokasi ke tempat aman dan nyaman. Karena lokasi yang saat ini ditempati sudah dua kali ditimpa bencana pergerakan tanah.
''Kami satu kampung ini ingin pindah saja ke lokasi yang lebih aman,'' ungkap Saepul belum lama ini.
Menurut dia bencana pergerakan tanah ini sudah dua kali dialami warganya. Bencana yang terakhir ini lebih besar, dan lokasi kampungnya tersebut sudah terkepung oleh beberapa tanah amblas.
"Sudah dua kali kampung kami terkena bencana pergerakan tanah. Pada Februari 2017 dan sekarang yang besar," ujarnya. (Budiyanto/kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tanah-retak-sukabumi_20180207_211906.jpg)