UGM Ajak Negara Lain Meneliti Penyakit Jantung Koroner
Partisipasi itu dikemas dalam sebuah program Winter Courser 2018 on Cardiology dengan melibatkan beberapa negara lain.
Penulis: Santo Ari | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarkat dan Keperawatan (FKKMK) UGM berpartisipasi dan mendukung upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK).
Partisipasi itu dikemas dalam sebuah program Winter Courser 2018 on Cardiology dengan melibatkan beberapa negara lain.
Acara internasional yang memasuki tahun ke empat ini selalu mengusung tema yang berbeda.
Terkhusus awal tahun ini, FKKMK UGM fokus pada penyakit degenaratif yang semakin dekat dengan masyarakat.
Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) sebagai salah satu penyakit degenaratif saat ini masih menjadi salah satu masalah utama di Indonesia.
Sebanyak 42,3 persen kematian akibat penyakit ini disebabkan oleh penyakit jantung koroner (PJK) dan 38,3 persen disertai oleh stroke.
Baca: Jantung Pisang, Makanan Ternak yang Kini Disukai Kaum Perlente
Tingginya penyakit kardiovaskuler ini berdampak besar dalam pembiyaan kesehatan.
Data BPJS bidang kesehatan tahun 2016 mencatat terjadinya pengingkatan pembiayaan dibandingkan dengan tahun 2015.
Dari semula Rp 6,9 triliun naik menjadi Rp 7,4 triliun.
Budi Yuli Setianto, dari Depatemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler mengatakan tingginya prevalensi penyakit kardiovaskuler saat ini lebih disebabkan oleh gaya hidup.
Karena itu, diperlukan pendekatan program ke tingkat masyarakat.
Baca: Miris! Menderita Penyakit Langka, Bayi Tiga Minggu Ini Miliki Jantung di Luar Dadanya
Salah satu yang diupayakan oleh pemerintah melalui Program Cerdik (Cek Kesehatan Secara Harian, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktifitas fisik, Diet Sehat dan Seimbang, Istirahat cukup dan Kelola Stres) dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Meski demikian, program-program tersebut belum bisa diukur secara efektif untuk mengubah gaya hidup sehat masyarakat.
"Semua orang bisa terkena penyakit yang menyerang pembuluh darah. Untuk itu tidak hanya aktivitas fisik yang ditingkatkan, tapi pola hidup seperti makan juga perlu dijaga. Jangan makan sembarangan seperti goreng-gorengan, juga berhenti merokok," ujarnya.
Salah satu pemateri, Dr Delvac Oceandy, ahli cardiology dari Manchester University mengatakan pihaknya telah mengembangkan mobile app untuk melakukan deteksi dini penyakit jantung.
Saat ini programnya telah diujicobakan di empat kecamatan di Malang.
Sasarannya adalah desa-desa yang memiliki risiko penyakit jantung yang tinggi.
Dipilihnya pedesaan, hal itu lantaran penyakit jantung saat ini tidak hanya menyerang masyarakat perkotaan saja.
Baca: Tangis Pedih Orangtua Lihat Bayinya Lahir dengan Kondisi Jantung di Luar, Ajaib si Bayi Selamat
"Kami melakukan penilitian di Malang, dengan pengkaderan tim dari Posyandu. Dengan mobile app yang dikembangkan, mereka akan melakukan deteksi dini. Nanti hasil daerah yang menerapkan deteksi dini akan dibandingkan dengan yang tidak memakai. Bila penelitian ini berhasil, tidak menutup kemungkinan bisa digunakan di daerah lain," ulasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Ova Emilia, mengatakan, dengan diadakannya, Winter Courser 2018 on Cardiology, diharapkan calon profesional kesehatan pendidikan dokter, kesehatan masyarakat, keperawatan dan gizi kesehatan dapat belajar dari pengalaman negara lain.
Dalam program ini UGM mengundang peserta dari kampus-kampus negara lain seperti Nepal, Taiwan, Malaysia,dan Thailand.
"Banyak yang bisa dipelajari dari negara lain. Karena pasti negara lain memiliki gaya hidup, pola makan dan aktivitas yang berbeda dan itu bisa di share di acara ini," ujarnya.
Selama dua pekan, hingga 2 Februari, peserta akan mendapatakan pembekalan materi secara komprehensif dan materi dasar, klinis aplikatif, maupun preventif promotif di masyarakat.
"Diharapkan, para peserta ini nantinya menjadi advokat jantung sehat di tengah masyarakat," tandasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)