Menyulam agar Bahagia
Menuturkan, pameran ini menggambarkan bagaimana para peserta telah teracuni dan diracuni kegiatan menyulam tangan.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menyulam salah satu kegiatan hasta karya yang di era 80 hingga 90an menjadi kegiatan populer di kalangan ibu rumah tangga pada waktu, kini kembali diminati.
Salah satu kelompok menyulam yang kerap mengadakan pameran karya sulam para anggotanya adalah Seven Needles.
Kali ini mereka kembali mengadakan pameran sulamnya yang ke 10.
Pameran pertama tahun ini diadakan pada tanggal 6 sampai dengan tanggal 15 Januari 2018 di Galeri Kelas Pagi Yogya, Jalan Brigjen Katamso No. 48 Yogyakarta.
Selanjutnya, pada bulan Februari nanti, pameran rencananya bakal digelar di Phoenix Hotel bertajuk "BEETWEEN."
Baca: Workshop Sulam Tangan by Seven Needles
Untuk pameran ke 10 Kelompok menyulam Seven Needles ini mengambil judul TOXIC.
Kristi Harjoseputro, pendiri Seven Needles, menuturkan, pameran ini menggambarkan bagaimana para
peserta telah teracuni dan diracuni kegiatan menyulam tangan.
Pameran ini diikuti oleh 18 peserta yang memamerkan kurang lebih 70 karya sulam tangan dengan berbagai tema dan bentuk dan media.
Menyulam bukan hanya pekerjaan nenek-nenek siapapun bisa mempelajari cara menyulam tangan, baik itu anak-anak, anak muda, orang dewasa, laki-laki maupun perempuan.
“Tujuan kami mengadakan pameran ini adalah juga untuk memperkenalkan kegiatan sulam tangan kepada anak-anak muda. Bahwa menyulam bukan melulu pekerjaan nenek-nenek atau oma-oma saja,” ujar Kristi.
Baca: Seven Needles Gelar Eksibisi Karya Sulam Tangan
Lanjut Kristi, kelompok komunitas bebas menyulam tangan ini sudah berdiri sejak 8 tahun lalu.
Saat ini anggota yang aktif kira-kira 25 orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/karya-sulam-komunitas-seven-needles_20180119_150537.jpg)