Yusman: Di bawah Patung Sang Jenderal Semua Serdadu Bersatu
Baginya, kebanggan bagi seorang seniman adalah manakala sebuah karyanya bisa diapresisi oleh masyarakat.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribunjogja.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Malam perenungan sebagai penghormatan jasa pahlawan yang dilakukan tepat di bawah patung Jenderal Sudirman di Alun-alun Utara, Yogyakarta, Minggu (14/01/2018) malam, bisa jadi merupakan momen yang paling berharga bagi seniman asal padang, Yusman.
Pasalnya, karya 18 patung perjuangan sang jenderal Sudirman yang diletakan di Alun-alun Utara, mendapatkan apresiasi mendalam dari tiga petinggi TNI bersama Kapolda DIY dan segenap masyarakat Yogyakarta.
Yusman mengatakan, pemeran 18 patung yang berdiri gagah di Alun-alun Utara, Yogyakarta merupakan sebuah bakti 32 tahun dirinya berkarya sebagai seniman patung di Yogyakarta.
Baginya, kebanggan bagi seorang seniman adalah manakala sebuah karyanya bisa diapresisi oleh masyarakat.
Apalagi, apresiasi juga disampaikan oleh tiga pimpinan TNI dan Kapolda DIY.
"Suatu kebanggaan bagi saya, karyanya bisa diapresisai oleh semua petinggi TNI dari darat, laut, udara dan Kepolisian. Di bawah Patung sang Jenderal semua serdadu bisa bersatu," ujar Yusman, Minggu (14/01/2018) malam.
Malam perenungan yang digelar minggu malam itu, dihadiri oleh Kapolda DIY, Brigjen Pol.Ahmad Dofiri, bersama pimpinan TNI, Danlanud DIY, Marsma TNI.Ir.Novyan Samyoga,MM, Danrem 072/Pamungkas, Brigjen TNI.Fajar Setiawan,SIP yang diwakili dan Danlanal DIY Lantamal V, Kolonel laut (p) Arya Dewan SE, MPd.
Yusman bercerita bahwa malam perenungan yang digelar di Alun-alun Utara merupakan momen yang tepat, karena Jenderal Sudirman ketika dipanggil bung Karno ke gedung Agung untuk berunding dengan Belanda, beliau (Jenderal Sudirman) menyempatkan transit di Alun-alun Utara terlebih dulu.
Sebelum akhirnya tepat pukul 08.00 WIB Jenderal Sudirman mendatangi gedung Agung dan menyatakan sikap menolak berunding dengan Belanda.
"Satu-satunya pahlawan yang tidak mau berunding dengan Belanda adalah pak dirman," ungkapnya.
Dikatakan Yusman, Jenderal Sudirman lebih memilih meninggalkan gedung agung dan bergerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Potret keteguhan dan perjuangan sang Jenderal itulah bagi Yusman yang seharusnya menjadi refleksi peringatan betapa para pejuang mengorbankan segalanya demi Indoensia.
"Dari tangis, darah bahkan nayawapun tak segan untuk diberikan. Sebagai seniman kami tergugah untuk mengingatkan kembali perjuangan para pahlawan," katanya.
Ia berharap, bagi generasi masa kini kemerdekaan yang suci ini jangan diciderai dengan perbuatan-perbuatan yang merusak.
Namun sebaliknya, dengan adanya malam refleksi peringatan jasa pahlawan, ia berharap anak cucu kelak dikemudian hari sanggup meneladani Jasa-jasa para pahlawan.
"Buatlah patung ini yang bicara. Nyawa mereka korbankan. Semoga, anak cucu kita meniru jejak para pahwlawannya," harap dia. (*)