Alissa Wahid : Ketimpangan Ekonomi di Indonesia Nomor 3 Terburuk di Dunia

Bukan income GDP negara yang akan menentukan kualitas kehidupan negara, tetapi ketimpangan atau kesenjangan ekonomi.

Penulis: Rizki Halim | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Rizki Halim
Pengurus Organisasi Indonesia Tionghoa (INTI) beserta Buya Syafi'i Ma'arif, K.H Imam Aziz, dan Alissa Wahid saat jumpa pers di The Resort Westlake, Yogyakarta, Rabu (3/1/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Tantowi Alwi

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Alissa Wahid, Putri Presiden Keempat RI Abdurahman Wahid (Gud Dur) turut hadir dalam diskusi 'Mengatasi Kesenjangan Sosial di Indonesia' yang diselenggarakan oleh Organisasi Indonesia Tionghoa (INTI) di The Resort Westlake Jalan Ringroad Barat, Yogyakarta, Rabu, (3/1/2018).

Alissa mengatakan diskusi tersebut niatnya adalah untuk membangun jembatan hubungan yang akhir-akhir ini polarisasi di masyarakat semakin menguat.

"Apalagi dipicu Pilkada DKI Jakarta kemarin, di mana penggunaan sentimen agama sangat kuat," tuturnya.

Menurutnya, dalam kondisi perpecahan yang semakin menajam, kemudian di tahun 2018 dan 2019 akan menjadi tahun puncak politik, maka inisiatif untuk mempertemukan kelompok masyarakat itu penting.

"Pengurus INTI justru memengambil inisiatif untuk mengajak dalam memecahkan berbagai tantangan kita. Terutama tantangan ketimpangan sosial," sambung Alissa.

Ia juga mengungkapkan dari data tahun 2016 ketimpangan di Indonesia nomor 3 terburuk di dunia.

"Kita terburuk ketiga setelah Rusia dan Thailand dalam hal ketimpangan ekonomi. Jadi ini upaya-upaya yang perlu kita lakukan. Tidak lagi hanya bisa mengandalkan negara, tetapi berbagai elemen masyarakat justru perlu untuk duduk membicarakan itu," kata Alissa.

Kemudian, Alissa mengatakan bukan income GDP negara yang akan menentukan kualitas kehidupan negara, tetapi ketimpangan atau kesenjangan ekonomi.

"Ketimpangan ekonominya tinggi pasti kualitas kehidupan negaranya jelek, ini yang mau coba kita atasi," ungkapnya.

Selain itu, sambungnya, sebentar lagi memasuki pasar bebas, negara-negara lain masyarakatnya sudah mempersiapkan diri untuk menguasai bahasa Indonesia supaya melihat Indonesia sebagai market.

"Sementara kita masih kurang mempersiapkan diri. Ini juga harus menjadi perhatian," ujar Alissa. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved