Carlo Jikustik dan Yoyok Shaggydog Terlibat Album Drums Speak#2

Tema yang diangkat dalam album ini adalah "FEEL THE TIME AND MAKE YOUR DRUM SPEAK.”

Tayang:
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Yudha Kristiawan
Suasana launching album Drums Speak #2 

Laporan Reporter Tribun Jogja Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Anggrian Hida dan Dedy sebagai pelaksana program dalam project album ini menjelaskan, melalui album ini terarsip 5 karya dari 5 drummer.

Mereka adalah Benny Fuad Herawan ( KUA ETNIKA, WAYBE ), Yustinus Satria Hendrawan ( SHAGGYDOG ), Carlo Liberianto ( JIKUSTIK ), Danish Wisnu Nugraha ( FSTVLST ) dan Natasha Christalia ( INDEPENDENT, JAZZ MBEN
SENEN ).

Tema yang diangkat dalam album ini adalah "FEEL THE TIME AND MAKE YOUR DRUM SPEAK.”

Kurang lebih ingin menyampaikan pesan bahwa waktu adalah hal yang sangat besar, terkadang kita tidak mampu memanfaatkannya dengan baik.

"Sebagai manusia, sebaiknya selalu belajar dan belajar sehingga menjadi jiwa yang bebas dan mampu memberikan energi positif untuk kehidupan dan sekitar kita," kata Anggrian.

Lanjut Anggrian, dalam album ini masing masing drummer diberi keleluasaan untuk menginterpretasikan tema tersebut dalam karyanya.

Ada Yustinus Satria Hendrawan ( Yoyok Shaggydog ) dengan format yang berbeda stetelah kurang lebih 20 tahun berproses bersama Shaggydog.

Baca: Album Drums Speak #2 Sudah Dirilis

Selanjutnya, Benny Fuad Herawan ( Benny Kua Etnika, Waybe ) yang dari SMP mulai mencintai
drum, kali ini mengajak band Waybe untuk memainkan komposisinya.

Carlo Liberianto ( Carlo Jikustik ) yang bertahun-tahun berproses bersama “Jikustik” kali ini membuat komposisi dengan format band yang berbeda juga.

Dan dua talenta muda yakni Danish Wisnu Nugraha ( Dacong FSTVLST ) menyampaikan apa yang disenangi dan di pelajari selama ini.

Terakhir ada Natasha Christalia ( Sasha Jazz Mben Senen, Independent ) , seorang drummer wanita
muda dengan komposisi quartetnya juga menunjukkan hasil dari sebuah proses yang dijalani.

"Mereka semua mempunyai waktu dalam berproses yang harus di apresiasi dan diberi ruang. Sehingga harapan kami dalam mendokumentasikan karya ini akan terus bergulir, berjalan dan silih berganti. Hal ini juga sebagai wujud dari kami, bahwa kami ingin melebur tanpa melihat usia, jenis kelamin, jenis musik, dan lain-lain. Karena dalam berkarya semua sama, yaitu untuk mencapai nilai keindahan yang diwujudkan dalam sebuah karya," terang Anggrian.

DGYK sendiri merupakan komunitas para drummer yang berada di Yogyakarta, mempunyai misi memberikan ruang para drummer untuk bersosialisasi, berkreasi dan saling belajar berbagi baik musikal maupun nonmusikal. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved