Inilah Faktor-faktor Penyebab Anak dengan Cerebral Palsy

Cerebral Palsy dapat mempengaruhi bagian tubuh yang berbeda, misalnya spastik quadriplegia atau bilateral.

Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Noristera Pawestri
Dokter Spesialis Anak RSA UGM, dr.Ade Febrina Lestari Msc,SpA. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Cerebral Palsy adalah perubahan postur dan kumpulan gejala yang disebabkan karena kerusakan otak selama periode perkembangan otak, yang sifatnya tidak progresif atau tidak bertambah berat.

Cerebral Palsy dapat mempengaruhi bagian tubuh yang berbeda, misalnya spastik quadriplegia atau bilateral.

Spastik quadriplegia ini mempengaruhi kedua lengan, tungkai, otot-otot batang tubuh, muka, dan mulut.

Yang kedua yaitu Spastik Diplegia atau bilateral yang dapat mempengaruhi kedua tungkai.

Namun lengan juga dapat terpengaruh pada tingkat yang lebih rendah.

Yang terakhir spastik hemiplegia atau unilateral yang dapat mempengaruhi salah satu sisi tubuh misal satu lengan dan satu tungkai.

Anak dengan Cerebral Palsy kemungkinan memiliki berbagai gangguan fisik dan kognitif seperti tidak mampu berjalan, gangguan intelektual, tidak mampu bicara, memiliki gangguan penglihatan yang berat, mengalami nyeri.

Gangguan penyerta yang lain adalah memiliki masalah mengontrol kandung kemih, epilepsi, gangguan tidur, gangguan perilaku dan masalah mengontrol air liur.

Dokter Spesialis Anak RSA UGM, dr Ade Febrina Lestari Msc,SpA, mengatakan ada beberapa penyebab anak dengan Cerebral Palsy.

"Bisa disebabkan selama masa janin dalam kandungan, selama proses persalinan, atau setelah lahir hingga masa kanak-kanak," tuturnya, Selasa (5/12/2017).

Ia menambahkan, selama masa janin bisa disebabkan faktor dari infeksi kongenital TORCH terutama toxo, rubella dan cytomegalovirus.

"Atau gangguan penyakit ibu selama hamil. Bayi lahir prematur, bayi lahir asfiksia atau tidak menangis," Imbuhnya.

Selain itu penyebab lainnya bisa berupa infeksi berat atau sepsis, infeksi intrakranial, perdarahan otak selama masa bayi akibat infeksi, trauma kepala maupun kausa lainnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved