Mantan Perangkai Janur di Istana Negara Ini Bertahan Demi Regenerasi

Di masa kejayaannya, sekitar tahun 1970 sampai 1980 Cholil pernah menetap di Istana Negara di era Orde Baru Soeharto selama lima tahun.

Tayang:
Penulis: Susilo Wahid Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Susilo Wahid
Para peraga busana mengenakan pakaian dengan hiasan janur karya Cholil dalam acara Jogja Janur Festival di Kampung Jetak, Dusun Soropaten, Desa Ringinharjo, Bantul beberapa waktu lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM - Lenggak-lenggok peraga busana tampak menyita puluhan pasang mata di sebuah jalan di Kampung Jetak, Dusun Soropaten Desa Ringinharjo Bantul beberapa waktu lalu.

Bukan hanya kecantikan dan tata rias model peraga busana, pakaian yang dikenakannya juga menjadi daya tarik tersendiri.

Ini karena sentuhan hiasan dari janur (daun kelapa) yang terpasang apik di pakaian yang dikenakan oleh para peraga busana.

Ada yang terpasang sebagai hiasan rambut, ditempel di gaun ataupun punggung yang membuat peraga busana tampak lain dari peraga busana biasa.

Sedikit tak lazim tentunya, ketika janur yang biasa dimanfaatkan untuk dekorasi dalam acara hajatan tradisi jawa justru dipasang dalam pakaian.

Bahkan, sampai untuk peragaan busana.

Tapi antusiasme warga yang menyaksikannya menjadi bukti jika janur juga cocok untuk penghias busana.

Usut punya usut, pemakaian hiasan janur ini adalah upaya warga Kampung Jetak menjaga eksistensi janur itu sendiri.

"Itu adalah upaya kami melakukan terobosan dengan janur, bahwa janur makin kesini tidak melulu hanya untuk dekorasi hajatan trandisi jawa," kata Cholil Nur Wachid.

Cholil adalah warga Kampung Jetak yang mewarisi keahlian merangkai janur turun temurun dari leluhur mereka.

Di kampung ini ada 15 seniman ahli perangkai janur seperti Cholil.

Bisa dikatakan, mereka adalah generasi seniman perangkai janur yang masih bertahan di Kampung Jetak.

Di masa kejayaannya, sekitar tahun 1970 sampai 1980 Cholil pernah menetap di Istana Negara di era Orde Baru Soeharto selama lima tahun.

Di sana, ia mendapat tugas untuk merangkai janur sebagai kebutuhan dekorasi istana negara dan kediaman presidem di Jl Cendana.

"Karena Pak Harto sangat menyukai dekorasi dan hiasan dari janur, jadi waktu itu ia meminta selalu ada dekorasi janur di istana negara dan kediaman presiden, apalagi kalau sedang hari kemerdekaan harus ada janur dari luar sampai dalam istana negara," kata Cholil.

Eksistensi janur menurut Cholil kala itu terus bertahan.

Capaian tak kalah luar biasa adalah ketika tahun 2012 lalu ia dan lima rekan sesama seniman perangkai janur asal Kampung Jetak diminta tinggal beberapa hari di negara luar seperti Perancis, Belanda, Jepang ataupun India.

Tujuannya hampir sama, yaitu diminta membuat dekorasi dari janur di kantor kedutaan atau dalam acara khusus.

Tak hanya dekorasi klasik janur seperti penjor, pajegan, walang, karangmelok dan unteran, Cholil dkk juga diminta membuat kreasi baru seperti pajegan kubah Monaco.

Antusiasme orang luar kala itu menurut Cholil luar biasa terbukti dengan antusiasme mereka belajar dan ingin tahu cara membuat hiasan dari janur.

"Mereka juga menghargai karya kami, pernah mereka meminta kami membuat hiasan janur berbentuk burung lalu membayarnya," kata Cholil.

Sayang, hal ini tak terlalu dirasakan di negeri sendiri karena makin hari hiasan janur mulai meredup.

Entah karena tergerus hiasan lain yang lebih instan dan praktis yang terbuat dari sintetis atau minat masyarakat yang mulai menurun.

Padahal, hiasan janur adalah warisan leluhur.

Cholil pun berupaya bertahan dengan membuat desain hiasan janur di luar pakem yang ada tanpa melupakan pakem asli.

Satu di antaranya membuat hiasan janur yang dikenakan oleh para peraga busana.

Peragaan busana sendiri adalah bagian dari acara Jogja Janur Festival, Sabtu (2/12/2017) lalu.

Tak hanya itu, Cholil dan rekannya di Kampung Jetak juga membuka diri bagi siapapun yang ingin belajar mendesain hiasan dari janur tanpa dipungkut biaya sedikitpun.

Ini adalah bagian dari upaya Cholil mempertahankan tradisi merangkai janur dari generasi ke generasi.

"Karena kami akui generasi seniman perangkai janur ini makin hari makin sedikit, kami sedikit lega karena masih ada beberapa warga, terutama generasi muda di Kampung Jetak ini yang masih berminat belajar merangkai janur, mereka nanti yang akan jadi penerus kami," kata Cholil. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved