Bico Brewbagi, Jalan Empati Komunitas Kopi pada Korban Bencana Alam
Bico Society bebaskan pengguna jalan untuk menilai satu cup kopi semaunya. Uang dimasukkan ke dalam kardus donasi yang disiapkan personil komunitas.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Sejumlah peristiwa bencana alam merundung warga Kulonprogo dalam kesusahan.
Hal ini tentu saja mengundang perhatian dari banyak pihak untuk berbagi kepedulian.
Satu di antaranya datang dari Binangun Coffee Society atau Bico Society.
Komunitas penggiat kopi di Kulonprogo ini berempati kepada para korban bencana alam dan berusaha menggalang dana kemanusiaan.
Tentu saja, mereka mengumpulkan donasi itu melalui cara yang mereka bisa; berjualan kopi.
Langkah itu mereka lakukan di simpang empat Terminal Wates, Jumat (1/12/2017).
Sekitar 20 anggota komunitas dari kalangan petani kopi, penikmat dan pengemar minuman, penyeduh kopi, hingga pemilik warung kopi turun langsung ke jalan untuk menawarkan kopi kepada para pengguna jalan yang tengah berhenti menunggu traffic light menyala hijau.
Uniknya, mereka tidak menjual kopi sachet instan melainkan kopi sebenarnya yang original.
Yakni, single origin Arabica dengan beberapa varian jenis.
Mulai dari Mandaiaing, Bali Plaga, Sunda Arumanis, Lintong, Lati Mojong, Gayo Atulintang, hingga Menoreh Suroloyo dan lainnya.
"Ini memang acara dadakan. Sebelumnya kami akan menggelar event sosial berbagi kopi untuk penyandang disabilitas. Namun ternyata belakangan ini banyak terjadi bencana dan warga kena dampaknya. Kami tergerak mengalihkan kegiatan ke penggalangan donasi bagi korban bencana," kata koordinator acara Bico Brewbagi itu, Kusmandar Mayang.
Cara ini menurutnya cukup bagus untuk membantu para korban bencana.
Sebagian anggota komunitas turun langsung ke lokasi bencana sebagai relawan dan sebagian lainnya memilih jalan donasi kopi ini sebagai bentuk kepedulian sosial.
Kusmandar dan kawan-kawannya itu menyeduh kopinya secara dadakan di lokasi kegiatan.
Mereka membawa serta seluruh peralatan seduh kopi yang dimiliki lalu menyeduhnya secara langsung dengan metode pour over menggunakan paper filter (kertas penyaring).
Pihaknya dalam hal ini memang turut berupaya mengedukasi masyarakat tentang minuman kopi sesungguhnya yang segar menyehatkan, yakni kopi seduh, bukan kopi instan kemasan sachet.
Ada sekitar 3 kilogram biji kopi pilihan yang mereka siapkan untuk acara tersebut.
Maka, pengguna jalan pada saat itu bisa merasakan langsung kopi seduh ala cafe yang nikmat menghangatkan di tengah perjalanan beriring mendung.
Uniknya, mereka tak dipatok banderol harga tertentu.
Bico Society membebaskan pengguna jalan untuk menilai satu cup kopi semaunya.
Uang dimasukkan langsung ke dalam kardus donasi yang disiapkan personil komunitas.
"Harga seikhlasnya saja dan hasil penjualan itu kami donasikan langsung kepada para korban bencana banjir di Lendah dan Panjaan serta korban tanah longsor di Samigaluhd dan Kalibawang. Kami juga berencana untuk menyeduh kopi langsung di lokasi pengungsian sehingga bsia dinikmati para pengungsi maupun relawan," kata Kusmandar.
Aksi donasi kopi ini pun menuai perhatian dari para pengguna jalan.
Beberapa pengguna mobil langsung antusias menjulurkan tangannya melalui jendela dan menjatuhkan lembaran uang ke dalam kardus donasi lalu menerima secangkir kopi dari anggota komunitas tersebut.
Demikian juga beberapa pengguna sepeda motor turut melakukan hal serupa meski sedikit kerepotan karena harus berkendara sambil membawa cangkir kopi hangat di sebelah tangannya.
Ada pula pengguna jalan yang hanya memasukkan sejumlah uang tanpa mengambil cangkir kopinya.
"Caranya cukup kreatif untuk mengumpulkan donasi. Walaupun bukan penggemar berat minuman kopi, saya mengapresiasi cara mereka dalam membantu korban bencana. Semoga bantuan donasinya bisa tersalurkan dengan tepat sasaran," kata seorang pengguna jalan asal Purworejo, Galuh Sari.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/bico_20171201_125907.jpg)