Terdapat 31 Kasus Bunuh Diri Di Gunungkidul pada 2017
Rata-rata para pelaku mengakhiri hidupnya dengan menggantungkan diri di pohon dan di kandang sapi.
Penulis: trs | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Tris Jumali
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Berdasarkan data yang dihimpun dari Polres Gunungkidul, ada sekitar sekitar 31 kasus bunuh diri dan termasuk percobaan bunuh diri yang terjadi selama 2017 di Gunungkidul.
Sekitar 29 orang tidak dapat diselamatkan lagi, namun dua masuk dalam kasus percobaan bunuh diri.
Rata-rata para pelaku mengakhiri hidupnya dengan menggantungkan diri di pohon dan di kandang sapi.
Pelaku bunuh diri kebanyakan sudah berumur diatas 50 tahun dan berjenis kelamin laki-laki, mereka mengakhiri hidupnya dikarenakan mengidap penyakit menahun yang tidak kunjung sembuh.
Kasubbag Humas Polres Gunungkidul Iptu Ngadino mengatakan ada tiga faktor penyebab bunuh diri di Gunungkidul, pertama dikarenakan memiliki gangguan kejiwaan seperti depresi, lalu hidup sebatang kara, dan juga termasuk memiliki penyakit yang tidak kunjung sembuh.
Baca: Wanita Warga Asing Ini Bunuh Diri dengan Terjun dari Lantai 5. Ini 4 Faktanya
"Kita sudah melakukan berbagai upaya melalui ceramah, pengajian, dan juga dengan menyambangi warga, memberikan himbauan, kita ajak ngobrol tentang masalah-masalahnya," ungkap Ngadino, Selasa (21/11/2017).
Selain itu juga, Ngadino mengatakan pihaknya juga berupaya untuk mengurangi angka bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul melalui berbagai kegiatan seni dan budaya.
"Kita lakukan pendekatan melalui seni dan budaya, itu sudah dibuktikan saat di Patuk, jadi ada orang yang ditinggalkan keluarganya, kita ajak untuk ikut kegiatan bernyanyi, kebetulan itu kesenangannya," tandas Ngadino.
Dengan diberikan kegiatan-kegiatan positif, warga tersebut menjadi lebih aktif, dan mengembalikan semangat hidupnya, sehingga keputusan untuk mengakhiri hidup menghilang.
"Untuk Patuk ada satu kasus, Playen empat kasus ditambah satu kasus percobaan bunuh diri, Wonosari ada tiga kasus, Paliyan satu, Saptosari satu, Tepus dua, Semanu dua, Karangmojo dua, Semin empat, Ngawen dua, Nglipar satu ditambah satu kasus percobaan, Tanjung sari satu, Girisubo tiga, Panggang dua," jelas Ngadino.
Ngadino mengatakan tidak mesti wilayah rawan kemiskinan yang sering terjadi kasus bunuh diri, karena memang faktor ekonomi tidak terlalu berpengaruh dalam mengambil keputusan mengakhiri hidup.
"Terus kita kaji masalahnya, pelan-pelan kita mengambil langkah untuk mengikis kasus bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul ini," ujarnya.
Sedangkan pada 2016, ada 33 kasus bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul, dua diantaranya masuk kedalam percobaan bunuh diri. (TRIBUNJOGJA.COM)