Indonesia Krisis Lagu Anak, Jadi Alasan Kompas Gramedia Gelar Dendang Kencana 2017
Guru-guru sangat antusias mengikuti lomba cipta lagu tersebut, ini terlihat dari ada 700-an lagu yang masuk ke panitia.
Penulis: Tantowi Alwi | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Tantowi Alwi
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pada era tahun 1970 sampai 1990-an, lagu anak-anak masih sangat eksis, saat itu penyanyi lagu anak menyanyikan lagu yang sesuai dengan umurnya.
Sehingga, anak usia di bawah 12 tahun masih dapat menikmati lagu-lagu yang sesuai dengan umur mereka.
Hal ini disampaikan oleh Paulina Dinartisti, Ketua Panitia Dendang Kencana 2017 saat konferensi pers di Gedung Pusat Universitas Sanata Dharma, Jumat (17/11/2017) siang.
"Melihat ada fenomena ketimpangan di dunia seni anak-anak, di mana anak-anak tidak memiliki lagu, berdasarkan krisis itu, tahun 2017 ini kami gulirkan Dendang Kencana yang sempat tertidur lama," kata Paulina Dinartisti.
Rangkaian Dendang Kencana 2017 ini dimulai dengan serangkaian Workshop Cipta Lagu Anak & Workshop Musik, Vokal & Gerak di empat kota yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Surabaya, serta dipuncaki dengan Lomba Paduan Suara Anak tingkat TK dan SD.
"Lomba cipta lagu bukan menganggap lagu-lagu yang ada kurang mendukung tetapi ada lagu-lagu yang kurang konteks kekinian. Sehingga, mendorong guru-guru untuk membikin lagu-lagu anak," kata Paulina Dinartisti.
Guru-guru sangat antusias mengikuti lomba cipta lagu tersebut, ini terlihat dari ada 700-an lagu yang masuk ke panitia.
"Dari 700-an lagu, kami dapatkan 20 lagu. 10 lagu tingkat TK dan 10 lagu tingkat SD, semua lagu tersebut dipersembahkan untuk anak-anak Indonesia," katanya.
Dalam menyelenggarakan kegiatan ini, Kompas Gramedia didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Bank Rakyat Indonesia.
Lomba Paduan Suara Anak TK-SD Dendang Kencana 2017 berlangsung secara berurutan di empat kota: Jakarta (Bentaya Budaya Jakarta, 26 - 28 Oktober 2017), Yogyakarta (Gedung Pusat Universitas Sanata Dharma, 17 - 19 November 2017), Denpasar (Bentara Budaya Bali, 22 - 23 November 2017), dan Surabaya (Taman Budaya Jawa Timur, 27 - 29 November 2017).
"Harapannya ingin sekali banyak orang untuk berpartisipasi karena gerakan ini jangka panjang, sehingga saya berharap banyak pihak yang mensupport," kata Paulina.
Selanjutnya, dari sisi lagu anak, Paulina Dinartisti mengatakan harapannya muncul penyanyi cilik lagi dan lagu-lagu anak lagi, dan juga supaya anak-anak tidak mudah lebih cepat dewasa sehingga mereka dapat menikmati dunia sesuai dengan usia anak-anak. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kkg_20171117_153255.jpg)