Australomelanesid, Hominid Raja Gua
Mereka bertahan selama berpuluh-puluh tahun, sempat menguasai Pulau Jawa (Gunung Sewu) sebelum perlahan menghilang digantikan ras Mongoloid
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM - Gua Braholo terletak di salah satu bukit kapur di Desa Semugih, Kecamatan Rongkop. Kabupaten Gunungkidul, DIY.
Lokasinya tidak jauh dari jalan provinsi menghubungkan Kota Wonosari ke Pracimantoro, Wonogiri, dan Pacitan di Jatim.
Akses menuju lokasi gua sangat mudah, dan terletak di dekat permukiman penduduk.
Area gua merupakan tanah milik keluarga Kusno (63), yang juga juru pelihara situs cagar budaya ini.
Pertanyaan menarik dan ditunggu banyak orang, serta membetot minat para arkeolog dan ahli sejarah, siapakah manusia prasejarah yang hidup dan tinggal di Gua Braholo ini?
Dari mana asalnya? Siapa penghuni awal tempat ini?
Baca: Situs Prasejarah di Gunungkidul Ini Simpan Misteri Besar Peradaban Jawa
Penelitian dan ekskavasi oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada 1998 menghasilkan temuan istimewa.
Tim menemukan kubu primer dan sekunder berisi kerangka manusia prasejarah.
Penggalian di kotak terdalam di Gua Braholo belum mencapai lapisan steril.
Ini mengindikasikan peradaban di Braholo tidak hanya di lapisan Holosen, kemungkinan sampai lapisan masa Pleistosen.
Sementara temuan fragmen maupun artefak fauna sangat melimpah di gua ini.
Menunjukkan tingginya aktivitas hunian di lokasi ini dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Menjawab pertanyaan siapa manusia penghuni Gua Braholo? Dari mana asal mereka? Analisis terhadap temuan-temuan fragmen dan kerangka manusia menunjukkan individu itu berciri homo sapiens (manusia modern).
Memiliki Kebudayaan
Pertanggalan C14 (carbon dating) pada level rangka individu pertama saat ditemukan, menghasilkan angka relatif 9.780 tahun.
Sedangkan pertanggalan di lapisan individu kedua menghasilkan angka 8.760 tahun.
Dilihat dari cara penguburan, kedua individu sudah mendapatkan perlakuan tertentu, menandakan para penghuni gua saat itu sudah memiliki kebudayaan tertentu.
Ciri penguburan terlipat ini juga ditemukan di sejumlah gua prasejarah lain di Pacitan.
Kepastian bahwa individu-individu itu merupakan homo sapiens disimpulkan antara lain berdasarkan ciri fisik bentuk tengkorak, rahang, gigi geligi, tulang tangan, rusuk, dan tulang kaki.
Rahang bawah individu pertama sangat kekar dengan corpus mandibularis yang tinggi dan tebal.
Dari susunan gigi, terlihat sudah cukup sempurna mengindikasikan usia individu ini sudah di atas 18 tahun.
Dilihat dari tingkat keausan gigi, menunjukkan tingkat keausan tiga pada skala Broca. Ini menunjukkan individu ini sudah sangat dewasa, melewati usia 50 tahun.
Individu kedua yang ditemukan hanya menyisakan tengkorak, pinggul, dan tulang ekor (sacrum) saja.
Di sekitarnya berserakan tulang mamalia kecil, seperti Macaca sp (kera ekor panjang).
Kondisi tengkorak sudah pecah karena tekanan beban pascakematian.
Namun dari cirinya bisa disimpulkan bentuknya memanjang (dolichepal) dengan prognatis menonjol.
Giginya sudah memiliki tingkat keausan level empat, menyisakan sedikit mahkota.
Bagian paling aus di gigi taring dan prageraham.
Dari cici pelvis yang terbuka dan lebar, sisa rangka ini diyakini mewakili individu perempuan usia lebih dari 50 tahun.
Dari ciri-ciri ini kemudian dianalisis untuk menentukan jenis rasnya.
Dari morfologi kranio-fasial kedua individu, ciri-ciri ras Australomelanesid sangat dominan. Ini didukung postur tubuh dan ukuran tulang mereka.
Ciri-ciri serupa tampak pada sejumlah individu manusia prasejarah yang ditemukan di Song Keplek, Pacitan.
Ras ini secara umum mempraktikkan penguburan terlipat, beda dengan ras Mongoloid yang menggunakan cara penguburan telentang.
Kelompok manusia modern Australomelanesid ini tersebar luas, dengan ciri-ciri paling mudah saat ini dikenali pada fisik warga Papua, sebagian Flores, dan Melanesia di sebelah timur Papua.
Mereka bertahan selama berpuluh-puluh tahun, sempat menguasai Pulau Jawa (Gunung Sewu) sebelum perlahan menghilang digantikan ras Mongoloid yang begitu dominan hingga saat ini.
Benua Afrika
Lantas siapa manusia Asutralomelanesid yang pernah mendirikan "kerajaan" di Gunung Sewu, termasuk di Gua Braholo ini?
Bukti paleoantropoligis sejauh ini benua Afrika dipercaya sebagai sumber asal dan tempat evolusi hominid.
Menurut Dr Thomas Sutikna (Universitas Wollongong), manusia modern (homo sapiens) yang kini mendominasi bumi, keluar dari Afrika sejak 100.000 tahun lalu.
Mereka berjalan kaki menyusuri garis pantai ketika Afrika, Timur Tengah, Asia, Sumatera hingga Jawa dan Kalimantan masih satu daratan.
Daratan Asia di zaman es yang menyatu ini dikenal dengan sebutan paparan Sunda.
Jejak populasi Australomelanesid di paparan Sunda ini kelak dikenal sebagai pendukung budaya Hoabinhian (satu daerah di Vietnam).
Para ahli meyakini kelompok Austromelanesid ini sejak bermigrasi dari Afrika hingga Kalimantan secara bergelombang, dan belum pernah menyeberangi lautan.
Karena itu persebaran mereka terhenti di wilayah yang kelak dikenal dengan istilah garis Wallacea.
Jika kemudian jejak ras ini ditemukan di Sulawesi, Flores, Timor, Maluku, Papua hingga daerah di sebelah timurnya, ini sesuatu yang sangat mengagumkan.
Meninggalkan misteri besar bagaimana cara mereka menyeberangi lautan dalam dan beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk bagaimana mereka bisa mencapai benua Australia.
Dari temuan-temuan arkeologis di Sumatra dan Jawa serta Kalimantan, kelompok Australomelanesid ini mendominasi sejak 10.000 tahun lalu setelah arus migrasi.
Begitu perkasanya mereka sehingga sebaran peninggalannya terserak di banyak lokasi. Dominasi ras Australomelanesid runtuh ketika ras Mongoloid datang dari Pulau Formosa (Taiwan) sekitar 5.000-4.000 tahun lalu.
Paleontolog Peter Bellwood menyebut Fujian di China Selatan, merupakan akar dan asal usul ras Mongoloid. Mereka bergerak ke Formosa, sebelum meneruskan migrasi ke Filipina, terus ke Indonesia.
Sekitar 2.000 tahun lalu, menurut teori Out of Taiwan, kelompok Mongoloid ini mencapai Pasifik (Polinesia).
Ras ini membawa kebudayaan yang sangat maju, dan terus berkembang mendominasi hingga sekarang.
Tentang bagaimana kehidupan para Australomelanesid di Gua Braholo, penelitian Puslit Arkenas menunjukkan manusia di Gua Braholo hidup dari berburu dan meramu.
Pembakaran sudah mereka kenal, berikut aneka peralatan litik maupun nonlitik.
Daya dukung lingkungan sekitar Gua Braholo juga sangat mendukung.
Tak hanya biota air tawar dari sungai atau telaga di sekitarnya, penghuni Gua Braholo sudah mengenal biota laut.
Ini ditunjukkan sisa cangkang kerang (moluska) yang ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak.
Jarak terdekat menuju pesisir Laut Selatan dari gua sekitar 18 kilometer.
Temuan berbagai alat batu maupun tulang juga menggambarkan gua itu dipakai untuk lokasi produksi. Baik untuk berburu maupun peralatan pendukung lain, termasuk perhiasan sederhana. (xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/gua-braholo-manusia-purba_20171113_123044.jpg)