Kompak Kenakan Batik, PPATK Sambangi Kantor Harian Pagi Tribun Jogja
Keberadaan PPATK yakni untuk memperkuat pemberantasan berbagai tindak pidana, utamanya tindak pidana money laundry.
Penulis: sis | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hening Wasisto
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) berkesempatan untuk bersilaturahmi ke kantor harian pagi Tribun Jogja, Kamis (9/11/2017) siang.
Rombongan PPATK yang dipimpin langsung oleh kepala PPATK, Kiagus Ahmad Badaruddin tiba di kantor Tribun Jogja sekitar pukul 14.30 kompak mengenakan baju batik.
Kedatangan PPATK siang tadi, disambut langsung oleh pemimpin redaksi Tribun Jogja, Ribut Raharjo, bersama manager liputan Tribun Jogja, Sulistiono serta editor Tribun Jogja, Hendy Kurniawan.
Kepala PPATK, Kiagus Ahmad Badaruddin menjelaskan, keberadaan PPATK yakni untuk memperkuat pemberantasan berbagai tindak pidana, utamanya tindak pidana money laundry.
"Kami mendukung pemerintah dan para pnegak hukum untuk mengurangi terjadinya pelanggaran hukum dengan menyuplai berbagai data hasil analisa kami," ujar Badarrudin.
Lanjutnya, PPATK juga bisa bertindak proaktif, atau menunggu adanya permintaan.
Permintaan itu diperluas dengan acuan hasil analisis, pemeriksaan, rekomendasi, dan evaluasi.
"Bersama penegak hukum, kami menjalankan fungsi dengan baik sesuai dengan yang diamanatkan Undang-undang," tambah mantan Inspektur Jendral Kementrian Keuangan ini.
Dalam melakukan penindakan, kata Badaruddin, PPATK memakai berbagai macam pendekatan.
Dengan begitu, pelaku penyelewengan langsung dapat ditemukan.
"Untuk itu, harapan kami, kami bisa membantu pemerintah khususnya perpajakan. Kami harap pemerintah mau memanfaatkan secara optimal hasil analisis PPATK. Di samping itu, PPATK sendiri terus melakukan pebaikan dengan cara mendirikan pusat pendidikan dan pelatihan," urainya.
Sementara itu, pimpinan redaksi Tribun Jogja, Ribut Raharjo sangat senang dengan adanya PPATK.
Menurut Ribut, PPATK merupakan lembaga yang dicintai publik.
"Lembaga ini banyak dicintai publik, karena banyak meluruskan hal-hal yang bengkok. Lembaga ini juga bisa menjadi warning (peringatan)," jelasnya.
Pertemuan yang berlangsung selama 90 menit itu ditutup dengan pemberian cinderamata dari pihak PPATK kepada Tribun Jogja. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ppatk_20171109_201640.jpg)