Antisipasi Longsor, Perbukitan Menoreh Dilengkapi 18 unit EWS

Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor yang mengintai selama musim hujan ini.

Antisipasi Longsor, Perbukitan Menoreh Dilengkapi 18 unit EWS
Tribun Jogja/Singgih Wahyu
Petugas BPBD Kulonprogo melakukan pengecekan terhadap unit early warning system (EWS) tsunami di beberapa titik sepanjang pesisir Kulonprogo. Dua di antaranya diketahui mengalami kerusakan fungsional. 

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Sebanyak 18 unit early warning system (EWS) dipasang di belasan desa rawan tanah longsor di Kulonprogo.

 Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor yang mengintai selama musim hujan ini.

Belasan EWS Itu di pasang di lima wilayah kecamatan yakni Kokap (4 desa), Girimulyo (4 desa), Samigaluh (7 desa), Kalibawang (3 desa), dan Pengasih (satu desa).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mengindikasikan desa-desa tersebut rawan terjadi tanah longsor karena letak geografisnya berada di daerah perbukitan.

"Kalau musim hujan, di wilayah-wilayah itu kerap terjadi tanah longsor meski titik kejadiannya selalu berbeda," kata Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Hepy Eko Nugroho, Kamis (19/10/2017).

Menurutnya, sejumlah warga juga tinggal di beberapa titik rawan longsor.

Untuk antisipasi, pihaknya mengumpulkan relaan dan potensi relawan dalam pengawasan retakan tanah.

Apabila ditemukan muncul retakan tanah, hal itu akan menjadi pertimbangan BPBD dalam mengambil langkah berikutnya dalam upaya antisipasi.

BPBD juga memasang sejumlah papan peringatan potensi bencana di sejumlah lokasi.

Hepy menyebut, ada 66 desa rawan bencana di wilayah Kulonprogo memasuki musim hujan ini.

Jenis kerawanan bencananya cukup beragam.

Mulai dari tanah longsor, pohon tumbang, banjir, dan lainnya. Jika bencana longsor rawan terjadi di wilayah perbukitan Menoreh, potensi bencana banjir lebih banyak berada di wilayah sisi selatan.

Antara lain wilayah Kecamatan Galur, Panjatan, Wates dan Temon, Lendah.

"Banjir yang terjadi sifatnya hanya genangan dan surut beberapa waktu kemudian. Wilayah-wilayah itu kan dilintasi alur sungai seperti Serang, Bogowonto dan Progo. Ketika debit air naik, rumah warga jadi tergenang," kata Hepy.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: ing
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved