The Point Coffee & Drama: Manual Brewing Tercepat di Yogya

The Point Coffee & Drama selalu melakukan quality control pada setiap kopi yang akan masuk ke bar.

Penulis: abm | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Septiandri Mandariana
Suasana dan penyeduhan manual di The Point Coffee & Drama. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Beberapa saat sebelum The Point Coffee & Drama ada, orang-orang yang mengawali berdirinya kedai ini adalah mereka yang sudah berkecimpung di dunia kopi sebelumnya.

Dan kedai ini akhirnya berdiri pada Maret 2016 dengan memanfaatkan sedikit ruang terbuka di satu toko buku yang berada di Jalan Cik Di Tiro Yogyakarta,” ungkap Muhammad Fadil, Barista yang juga Store Manager The Point Coffee & Drama kepada Tribun Jogja, Selasa (17/10/2017).

Hingga pada akhirnya pada Februari 2017 kemarin, kedai kopi yang sejak awal telah memiliki cukup banyak pelanggan ini memutuskan untuk pindah ke Jalan Demangan Baru no. 23, Kota Yogyakarta.

Dari kepindahan ini ternyata nasib mengatakan baik pada kedai ini, yang mana The Point Coffee & Drama terus memiliki pelanggan baru yang lebih banyak dari sebelumnya.

Banyak penikmat kopi di kedai kopi tersebut selalu mengisi bangku-bangku pengunjung sejak pagi hingga tengah malam.

Baca: Bupati Kulonprogo : Rasa Kopi Kulonprogo Belum Terstandarisasi

Fadil mengatakan, hal itu bisa jadi karena penyajian menu yang mereka berikan kepada pelanggannya dilakukan dengan waktu yang relatif cepat.

Walau sejak pertama pihaknya menyajikan kopi dengan menggunakan teknik penyeduhan manual, atau lebih banyak orang mengenalnya dengan manual brewing, Fadil memastikan secangkir kopi dapat tersaji dalam waktu singkat.

“Menu utama kami adalah kopi. Lalu, dalam metode penyeduhan yang kami pilih sebagai menu utama adalah manual brewing. Manual brewing itu cenderung lebih banyak eksplorasinya dibandingkan penyajian kopi dengan mesin. Contohnya alat manual brew itu macam-macam dan bisa menghasilkan karakter seduhan yang berbeda-beda,” ujar Fadil.

Ia mencontohkan misalnya saja seperti kalita flat bottom.

Metode penyeduhan manual tersebut dapat menghasilkan seduhan yang balance antara acidity dan sweetness.

Contoh lainnya yang bisa dikonsumsi di tempatnya adalah metode tubruk.

Menurutnya metode ini memiliki karakter seduhan yang cukup konsisten dan kompleks, juga ternyata juga merujuk kepada standarisasi pengujian cita rasa kopi dunia yang juga menggunakan metode tubruk.

“Kami bisa bilang penyajian manual brewing kami tercepat di Jogja,” singkatnya sambil tersenyum.

Mengapa bisa demikian?

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved