Listrik Harus Terus Hidup Agar Lele Budidaya Sistem Bioflok Tidak Kekurangan Oksigen
Sebanyak 14 ribu lele dari total 36 ribu lele mati di Budidaya ikan lele sistem bioflok Pesantren MBS Prambanan .
Penulis: app | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Rifky Effendi Hardijanto menjelaskan dalam budidaya ikan lele sistem bioflok, listrik harus dipastikan terus hidup agar lele tidak kekurangan oksigen.
Seperti contohnya di budidaya ikan lele sistem bioflok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS) Prambanan sebanyak 14 ribu lele dari total 36 ribu lele mati.
Diduga penyebabnya tak lain karena listrik yang kurang konsisten menyala.
"Kalau namanya budidaya pasti ada yang mati. Itu dievaluasi apakah bibit atau tidak kesempurnaan sistem. Yang penting (dari sistem bioflok) airator oksigen kalau listrik mati 10 menit saja itu bisa bahaya. Makannya dibantuan ini yang diberikan kepada masyarakat sistem dilengkapi genset kecil untuk memastikan bahwa listrik tidak akan putus," jelasnya.
Lanjutnya, air bekas dari kolam juga bisa digunakan menjadi pupuk untuk tanaman.
Dan tentunya diharapkan menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat.
"Airnya kalau ada tanaman kita kobinasi dengan aquaponik. Kita ada drainasi di sini yang jadikan pupuk untuk tanaman. Dan bisa meniadi penambahan penghasilan," pungkasnya.
Jumadi, pengelola budidaya ikan lele sistem bioflok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS) Prambanan pun mengamini hal tersebut.
Listrik yang padam bisa menyebabkan lele mati.
"Pakai blower, listrik mati blower mati susah. Ikan naik semua dan bisa mati," jelasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sekretaris-jenderal-kementerian-kelautan-dan-perikanan-kkp-rifky-effendi-hardijanto_20171013_181930.jpg)