Karyawan Koperasi Mau Digaji Berapa Saja, Asal Koperasi Tetap Berdiri

Pemerintah pun diharapkan dapat membantu koperasi unit desa agar bangkit dan berjaya kembali seperti dulu kala.

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Kondisi KUD Bhumikarta di Desa wonosari, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Rabu (11/10/2017). Tampak bangku-bangku yang kosong, suasana perkantoran yang sepi, dan bangunan kantor yang sudah tua dimakan usia. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Koperasi Unit Desa (KUD) di Gunungkidul dahulu sempat berjaya.

Namun seiring berjalannya waktu, modernisasi masuk membuat keberadaan KUD menjadi semakin ditinggalkan oleh masyarakat.

Seperti Koperasi Unit Desa yang kini masih bertahan, KUD Bhumikarta di Kecamatan Wonosari, Gunungkidul.

Dahulu koperasi ini pernah mengalami masa kejayaannya, sejak didirikan pada tahun 1973 silam.

Anggono, seorang karyawan yang sudah 24 tahun bekerja di KUD Bhumikarta menuturkan, dahulu KUD ini bahkan memiliki hampir sebanyak 13 ribu pelanggan yang membayarkan listrik air di KUD Bhumikarta.

Berbagai bidang usaha dimiliki oleh KUD, mulai dari listrik, air, berbagai macam kebutuhan pokok, jasa komunikasi telepon umum dan internet hingga persewaan gedung.

KUD juga melayani simpan pinjam.

"Dahulu, kami sempat memiliki hampir 13 ribu pelanggan, banyak usaha kami ada mulai dari jasa pembayaran listrik dan air sampai simpan pinjam," tutur Rabu (11/10/2017).

Anggono bercerita, setiap hari, koperasi selalu ramai dipenuhi oleh para pelanggan.

Bahkan dirinya harus bekerja lembur, karena koperasi buka pukul delapan pagi, dan baru tutup pada pukul delapan malam.

Setiap bulan pendapatan koperasi terus meningkat, hingga dapat mengembangkan bidang usaha dan mampu membayarkan gaji puluhan karyawan dengan besaran upah yang layak.

"Saking banyaknya masyarakat yang datang untuk membayarkan listrik, atau air, mengajukan pinjaman, menaruh simpanan, kami baru tutup jam delapan malam," ujarnya.

Namun masa kejayaan KUD Bhumikarta tak berlangsung lama.

Tahun 1998, Indonesia mengalami krisis moneter.

Krisis ini menghantam perekonomian masyarakat, membuat banyak usaha bangkrut, yang juga berdampak buruk pada operasional KUD Bhumikarta.

Harga-harga melambung tinggi, biaya operasional koperasi membengkak.

Satu per satu bidang usaha KUD Bhumikarta mulai berguguran dan hanya menyisakan jasa pembayaran listrik yang ada hingga saat ini.

"Krisis moneter tahun 1998 silam sangat memukul usaha dan perekonomian masyarakat kala itu. Termasuk koperasi kami. Kami hanya beruntung masih dapat berjalan sampai sekarang," ujar Anggono.

Paska krisis moneter tahun 1998 lalu, kondisi KUD Bhumikarta semakin membaik.

Selang beberapa tahun, muncul berbagai macam toko waralaba dan jasa layanan pembayaran secara online yang lebih praktis dan dapat diakses di mana saja.

Akibatnya, KUD Bhumikarta semakin terpuruk.

Dari puluhan karyawan yang ada, kini hanya tersisa enam karyawan yang bekerja di sana.

Pendapatannya pun sangat minim jauh dari upah layak.

Kendati demikian, Anggono dan karyawan lain tetap bertahan.

Meski tak lagi berusia muda, dirinya tetap akan bekerja di koperasi tersebut, karena ini sudah menjadi pilihannya.

"Kami sudah tidak memikirkan lagi gaji, jangankan UMR, dibayar berapapun mau. Untuk tambahan saya juga jualan sate di dekat pasar. Memang memprihatinkan namun, ini agar koperasi tetap berdiri," ujarnya.

Kini KUD Bhumikarta, menjadi satu dari tujuh KUD yang tersisa di Gunungkidul.

Hingga kini koperasi ini masih terus bertahan, meski digilas modernisasi.

Pemerintah pun diharapkan dapat membantu koperasi unit desa agar bangkit dan berjaya kembali seperti dulu kala.

"Kami sudah lama berada disini, ini adalah penghidupan kami, kami terus bertahan siapa tahu bisa ada perubahan," pungkas Anggono.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved