Intensitas Hujan Meningkat, Harga Tembakau di Magelang Turun

Bahkan, harga bahan baku pembuatan kretek itu, cenderung mengalami penurunan.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Azka Ramadhan
Perajang tembakau di Magelang tetap beraktivitas, meski harga komoditas tersebut mengalami penurunan karena faktor cuaca. 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Tingginya intensitas hujan yang melanda kawasan Magelang selama satu pekan lalu, berdampak pada tidak stabilnya harga tembakau.

Bahkan, harga bahan baku pembuatan kretek itu, cenderung mengalami penurunan.

Diungkapkan oleh Imron, seorang perajang tembakau di Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, bahwa harga daun terbaik, yang berada di bagian pucuk tanaman, atau sering disebut Kepolo, biasa dihargai Rp 100 ribu per kilogram.

"Tapi, sekarang (harga tembakau) anjlok, karena sempat hujan terus-menerus, selama beberapa hari kemarin. Yang tadinya bisa mencapai Rp 100 ribu per kilogram, jadi Rp 50 ribu saja, itupun sangat sulit," ungkapnya, Minggu (8/10/2017).

Imbuh Imron, penurunan harga tembakau yang cukup drastis, bukannya tanpa alasan.

Pasalnya, ketika diterpa hujan dengan intensitas tinggi, tanaman dipastikan banyak terendam air.

Ia tidak memungkiri, hal tersebut berakibat pada turunnya kadar tembakau.

"Karena itu, daun yang seharusnya sudah tua dan siap panen, menjadi muda lagi karena terkena hujan. Walaupun dijemur sampai kering, kualitasnya tetap tidak bagus, kandungannya sudah berbeda," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, tembakau ditanam dalam dua periode berbeda, yakni pada kisaran Mei dan Juni.

Namun, kualitas tembakau yang dihasilkan dalam dua periode tersebut, ada perbedaan.

Katanya, perbedaan kualitas tidak bisa dihindari, lantaran faktor cuaca.

Tambahnya, tembakau yang ditanam pada bulan Mei, sudah habis dipanen sebelum hujan tiba, sehingga kualitasnya dipastikan lebih bagus, karena tidak terguyur dan terendam air.

Hal tersebut, berbanding terbalik dengan tembakau yang ditanam bula Juni.

"Sedangkan periode tanam kedua (bulan Juni), masih banyak yang belum dipanen. Meskipun kering setelah habus dijemur, tetapi kualitasnya rendah, beda dengan tembakau periode pertama," ucapnya.

Terpisah, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Eko Widi, menandaskan bahwa sampai sejauh ini, di wilayah Kabupaten Magelang, masih banyak tanaman tembakau yang belum dipanen.

"Rata-rata, tembakau dipanen sesuai umur tanaman. Dalam artian, tidak dipanen lebih cepat, walaupun hujan sudah turun. Kemudian, tembakau diolah dan dijemur sebisanya, jelas hasil panen tanam periode kedua kualitasnya menurun," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved