Ini Alasan Kedelai Lokal Kurang Diminati Produsen Tahu dan Tempe
Padahal secara rasa, kedelai lokal memiliki kelebihan dari kedelai impor.
Penulis: ang | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Tidak adanya standarisasi mutu membuat kedelai lokal kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Padahal secara rasa, kedelai lokal memiliki kelebihan dari kedelai impor.
Pengusaha tahu asal Desa Karanganom, Klaten Utara, Yusuf Siswanto mengatakan kedelai lokal memiliki cita rasa lebih gurih dan enak jika diolah menjadi tahu dibandingkan kedelai impor.
Namun dengan tidak adanya standar mutu, produsen harus mengolah lagi kedelai lokal yang digunakan.
"Mulai dari pembersihan sedimen yang ikut dikemas seperti kerikil dan kulut ari hingga sortir biji kedelai yang tidak layak konsumsi seperti sudah busuk atau dimakan ulat. Jadi dua kali kerja, sementara kalau kedelai impor kita sudah terima bersih tinggal dicuci dan siap diolah," ungkapnya, Minggu (8/10/2017).
Baca: Kedelai Lokal Terjajah di Negeri Sendiri
Selain belum adanya standar mutu, produsen tahu di Klaten lebih memilih kedelai impor karena faktor harga dan kuantitas.
Untuk kedelai impor siap olah dibanderol rata-rata Rp 6.500 per kilogram.
Sedangkan kedelai lokal dengan kondisi belum bersih dihargai Rp 7.000 di tingkat petani atau pengusaha mencari sendiri ke petani.
"Jika lewat pengepul harganya lebih tinggi lagi ditambah ongkos kirimnya.
Dengan harga tersebut sebagai pengusaha, Yusuf menilai tidak sebanding dengan hasil produksinya.
Hal ini lantaran kedelai lokal memiliki ukuran lebih kecil dari kedelai impor sehingga sari pati yang dihasilkan pun lebih sedikit.
"Selain itu, jumlahnya juga tidak banyak. Sementara kebutuhan produksi tahu cukup besar. Sejauh ini yang mampu mencukupi baru kedelai impor, baik secara kualitas, kuantitas, hingga kebutuhan sari pati kedelai yang dihasilkan," ujarnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/proses-pembuatan-tahu_20171008_133513.jpg)