Komplotan Curanmor Ini Sangat Terstruktur dalam Melakukan Aksinya
Komplotan ini tidak pandang bulu atau menentukan lokasi terlebih dahulu sebelum melancarkan aksinya.
Laporan Reporter Tribun Jogja, Pradito Rida Pertana
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Delapan orang pelaku curanmor yang diringkus jajaran Reskrim Polresta Yogyakarta ternyata memiliki peran masing-masing dalam komplotannya.
Bahkan komplotan tersebut tidak begitu menentukan tempat saat melancarkan aksinya.
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Akbar Bantilan mengatakan, komplotan tersebut sangat terstruktur, bahkan dapat dikatakan tergolong nekat dalam melakukan aksi pencuriannya.
Komplotan ini tidak pandang bulu atau menentukan lokasi terlebih dahulu sebelum melancarkan aksinya.
"Memang mereka ini dapat dikatakan sindikat spesialis curanmor, semuanya punya peran masing-masing. Ada yang menjadi pemetik langsung dan khusus menjual hasil curian. Mereka ini sistemnya kaya patroli keliling gitu, ada motor yang bisa dicuri langsung diambilnya tanpa pandang bulu," katanya, Selasa (3/10/2017).
Sambungnya, komplotan ini juga memiliki target tertentu untuk jenis sepeda motor dan mereka juga menerapkan untuk beberapa hari sekali menjual motor hasil curiannya.
"Kriteria motor yang ditentukan komplotan ini adalah motor keluaran diatas tahun 2014. Mereka ini dua hari sekali menjual motor hasil curiannya ke penadah di Jawa Barat, dan itu rutin dilakukan," jelasnya.
Mengenai rata-rata omset penjualan sepeda motor curiannya, komplotan ini mendapatkan beberapa juta rupiah.
Dari pengakuannya yang setiap dua hari sekali menjual sepeda motor hasil curiannya ke Jawa Barat, pihaknya menduga bahwa sudah banyak sepeda motor yang dicuri oleh komplotan tersebut.
"Omset dari penjualan motor curian dari Rp 2 juta sampai Rp 3 juta sekali jual. Dari pengakuannya, untuk motor ukuran besar dijual Rp 10 juta dan untuk motor matic dijual ke penadah Rp 5 sampai Rp 6 juta," ungkapnya.
"Komplotan ini ternyata sudah lama beroperasi, karena ada yang seorang residivis karena kasus yang sama. Kalau dilihat dari sistem jualnya yang 2 hari sekali diperkirakan sudah ratusan motor digasak komplotan ini, untuk itu akan kita lakukan pengembangan," lanjutnya.
Dikatakannya pula, komplotan ini mengaku bahwa uang hasil penjualan motor curian tersebut digunakan untuk hidup sehari-hari.
"Rata-rata anggota komplotan ini dapat Rp 2 juta setiap penjualannya, dan ngakunya dipakai hidup sehari-hari dan sisanya untuk bayar hutang," bebernya.
Mengingat pencurian sepeda motor bisa terjadi kapan saja dan proses pencuriannya begitu cepat, pihaknya mengimbau masyarakat untuk memasang pengamanan lebih di kendaraannya.
"Himbauan dari kami untuk masyarakat untuk meningkatkan proteksi kendaraannya masing-masing, bisa dipasang kunci ganda atau alarm. Karena ada kejadian yang terekam CCTV, jika mereka ini melakukan aksinya tidak sampai satu menit," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/curanmor_20171003_150243.jpg)