Inilah Cara Pengrajin Batik Giriloyo di Bantul Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
"Zaman berubah tapi minat orang terhadap batik masih sama, saya yakin orang Indonesia tetap mencintai batik"
Penulis: Susilo Wahid Nugroho | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Suara candaan ibu-ibu terdengar nyaring dari salah satu ruangan di sisi barat Gazebo Batik Giriloyo di Desa Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Senin (2/10/2017) siang.
Candaan ini seakan menjadi pengusir kebosanan, ketika aktivitas membatik sedang mereka lakukan sejak pagi hari.
"Sedang memotong kain untuk tamu belajar membatik, satu meter persegi jadi sembilan lembar, jadi memang ukuran kecil," Amiroh (50) salah satu pengrajin batik Giriloyo sembari menggerakan gunting pemotong kain yang sedang ia gunakan bersama rekannya.
Amiroh sedang tidak membatik ketika itu.
Ia kebagian tugas memotong kain.
Tapi ia menjelaskan bahwa membatik bukan sesuatu yang asing darinya.
Baca: Giriloyo Jadi Pusat Batik Yogyakarta
Total sudah sekitar 40 tahun ia membatik sejak usia 10 tahun memegang canting, satu alat membatik yang penting.
Meski sudah lama, tak ada niatan Amiroh untuk berhenti membatik.
Karena dari batik, ia bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah.
Jumlahnya uang hasil membatik tak terlalu fantastis, tapi sudah lebih dari cukup untuk membantu pemasukan utama rumah tangga dari suami.
Amiroh tak takut batik akan kehilangan pembeli.
Karena baginya, batik tetap punya penggemar dari abad 17 sampai detik ini.
"Zaman berubah tapi minat orang terhadap batik masih sama, saya yakin orang Indonesia tetap mencintai batik, dengan adaptasi yang kami lakukan," kata Amiroh.
Adaptasi yang dimaksud Amiroh, adalah menciptakan batik dengan corak yang baru agar tetap bisa diterima di pasaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pembatik-giriloyo_20171002_224320.jpg)