Dosen Ini Ingin Perajin Batik Mandiri Secara Ekonomi

Mengangkat kesejahteraan para perajin batik dan meningkatkan regenerasi pembatik adalah persoalan mendesak yang membutuhkan solusi serius.

Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Yudha Kristiawan
Seorang model tengah berpose di acara perayaan hari Batik Nasional di Pendopo Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Senin (2/10/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Industri batik nasional boleh jadi makin berkibar, namun seberapa jauh pecinta batik dan pelaku industri batik memperhatikan kesejahteraan perajin batik.

Persoalan inilah yang menjadi perhatian Karina Rima Melati, seorang anggota muda dari Sekar Jagad, Paguyuban Pecinta Batik Indonesia yang menginisiasi acara peringatan hari Batik Nasional ini.

Bagi Karina, bagaimana mengangkat kesejahteraan para perajin batik dan meningkatkan regenerasi pembatik adalah persoalan mendesak yang membutuhkan solusi serius.

Dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta ini bahkan mengkhawatirkan bila persoalan ini tak segera menjadi perhatian bersama, bisa jadi dalam kurun waktu lima tahun, akan sangat kekurangan perajin batik.

Bila terjadi kekurangan pembatik,akhirnya industri batik lari ke tiruannya melalui teknologi printing.

"Kita berharap, tidak hanya asyik mengeksploitasi produk batiknya saja melainkan perajinnya juga dipikirkan, bagaimana mereka agar bisa mandiri secara ekonomi sehingga bisa yakin dan mendorong keluarganya untuk meneruskan menjadi seorang perajin," ujar Karina ditemui di sela acara, Senin (2/10/2017).

Lanjut Karina, di Sekar Jagad persoalan ini sudah menjadi perhatian serius sejak lama.

Berbagai usaha dilakukan perajin batik memiliki regenerasi yang terus tumbuh.

Selain menggelar acara workshop batik dan fashion show, melalui paguyuban Sekar Jagad, Karina dan anggota lainnya melakukan edukasi melalui media buku.

"Sekar Jagad sudah membuat buku soal batik, kami berusaha agar wacana perkembangan industri batik ini juga menyentuh perajinnya. Industri batik kita sejak 2009 sudah masif, tetapi yang masih kita lupakan bagaimana kemudian membantu pembatik atau perajin batiknya, tidak hanya menjadi buruh. Padahal, yang memegang kuncinya adalah perajinnya," ujar Karina. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved