Inilah Hasil Keresahan Anak Muda pada Permainan Tradisional

Di era modern banyak sekali anak-anak malah “asyik sendiri” dengan teknologi yang dimilikinya.

Penulis: abm | Editor: Ari Nugroho
Dok Pri
Aktivitas di kampung Hompimpa 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Indonesia tidak hanya dikenal sebagai suatu negara yang memiliki banyak sekali keberagaman budaya dan keindahan alamnya, namun juga berbagai jenis permainan tradisional yang telah ada sejak dahulu kala.

Anak-anak di negeri ini sejak dulu tumbuh dan berkembang dengan penuh kebahagiaan bermain bersama permainan-permainan tradisional yang kerap dilakukan dengan kawan-kawannya.

Contohnya saja seperti petak umpet, dakon, engklek, lompat tali, kapal otok-otok, egrang bambu atau batok kelapa dan masih banyak lagi.

Aktivitas anak-anak Indonesia di kala itu banyak dilakukan di luar rumah dan bersama-sama dengan teman sebayanya, dan tentunya banyak melakukan kegiatan fisik.

Seringkali tawa bahagia menyeruak dari masing-masing dari mereka saat melakukan sebuah permainan.

Baca: Bocah Ingusan Didatangi Teman Sepermainan Minta Tanggung Jawab karena Hamil, Ini Lalu yang Terjadi

Namun, berbeda dengan saat ini.

Seperti yang banyak dikabarkan oleh berbagai media dalam catatannya, di era modern banyak sekali anak-anak malah “asyik sendiri” dengan teknologi yang dimilikinya.

Duduk berjam-jam dengan gadget mereka untuk membuka media sosial, menonton video streaming, maupun bermain game yang mereka gemari.

Sebenarnya ada dampak positif dari hal yang banyak dilakukan oleh anak-anak saat ini, di mana mereka dengan sangat mudahnya mendapatkan informasi yang ada di berbagai dunia.

Namun masalahnya, dengan perilaku itu banyak orang yang mengatakan mereka jadi sulit untuk bersosialisasi karena terbiasa berinteraksi dengan teknologi, kecanduan gadget, bahkan mirisnya ia tidak mengetahui permainan tradisional yang dimiliki oleh leluhurnya sejak dahulu kala.

“Banyak dari anak-anak jaman sekarang cenderung memilih hidup di dunia maya daripada dunia nyata yang didasari oleh maraknya penggunaan media sosial. Hal ini menyebabkan anak-anak kurang peduli terhadap kehidupan sosial dan kurangnya interaksi sosial,” tutur Muhammad Miftah, seorang anak muda yang sangat peduli terhadap anak-anak dan permainan tradisional yang dimiliki negeri ini.

Oleh karena itu, ia bersama beberapa kawannya pada 2015 lalu mendirikan suatu komunitas yang juga sebagai wadah bagi anak-anak untuk bermain dan mengenal berbagai permainan tradisional, dengan nama Kampoeng Hompimpa.

Komunitas tersebut mereka dirikan bersama di Tangerang, Provinsi Banten.

Sejak berdirinya pada dua tahun lalu, kini Kampoeng Hompimpa tidak hanya berada di kota kelahirannya saja, namun ada di beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Yaitu di Semarang,  Pontianak dan Yogyakarta.

“Adanya Kampoeng Hompimpa diharapkan ikut membantu menghidupkan kembali permainan tradisional yang saat ini mulai jarang sekali ditemukan dan ikut berkontribusi terhadap kehidupan sosial anak-anak di Indonesia,” lanjutnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved