Desa Sawahan Lestarikan Permainan Tradisional Kitiran
Permainan ini menggunakan tenaga angin, dan kerap dimainkan saat musim kemarau. Kitiran akan mengeluarkan suara yang unik, saat angin bertiup.
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri Kurniawan
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Permainan tradisional Kitiran, yakni permainan sejenis baling-baling yang terbuat dari daun kelapa kering dan mengeluarkan suara unik, saat ini sudah jarang ditemui di Gunungkidul.
Namun permainan ini ternyata masih ada di Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul.
Kitiran merupakan sebuah permainan tradisional berupa baling-baling yang terbuat dari bambu atau kayu khusus yang dilengkapi dengan aksesoris berupa tiang dan ‘obal-obal’ yang terbuat dari ‘blarak’ daun kelapa yang berfungsi sebagai penyeimbang.
Permainan ini menggunakan tenaga angin, dan kerap dimainkan saat musim kemarau. Kitiran akan mengeluarkan suara yang unik, saat angin bertiup.
"Dahulu banyak dimainkan oleh anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan ada yang menunggu sampai larut malam," ujar Kepala Desa Sawahan, Suprapto, Jumat (22/9).
Suprapto mengatakan, permaianan tersebut hingga kini masih banyak digemari oleh warga Desa Sawahan Ponjong Gunungkidul, Pihaknya menuturkan, permainan ini terus dilesatarikan oleh warga sehingga tidak akan hilang termakan oleh zaman yang serba teknologi.
Ia pun berharap agar permainan tradisional tersebut bisa terus lestari agar menjadi identitas budaya original yang menjadi kebanggaan tersendiri.
"Saat ini saya bersama beberapa warga juga aktif ‘manjer’ kitiran di bukit Cataan, tentu ini bukan hanya sekedar hobi, tetapi merupakan bentuk pelestarian permainan tradisional” ungkap Suprapto.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/warga-tengah-bermain-kitiran-di-salah-satu-bukit-di-desa-sawahan-ponjong-gunungkidul_20170922_133250.jpg)