Ini Alasan Sebagian Petani Klaten Enggan Tanam Padi Varietas Baru hasil Riset BATAN
Dengan tanaman yang tinggi, konsumsi air dan pupuknya juga besar. Sehingga modal yang harus dikeluarkan terlalu banyak
Penulis: ang | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Angga Purnama
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN – Berbagai latar belakang yang mempengaruhi semakin langkanya beras Rajalele di pasaran.
Pasalnya sebagian besar petani enggan menanam varietas ini.
Sunar (30) petani asal Desa Kurung, Kecamatan Ceper mengatakan masa panen padi Rajalele terlalu lama dan tanaman yang tinggi sehingga mudah roboh saat musim pancaroba.
Hal ini dinilai merugikan petani.
“Selain itu, dengan tanaman yang tinggi, konsumsi air dan pupuknya juga besar. Sehingga modal yang harus dikeluarkan terlalu banyak,” ungkapnya, Selasa (19/9/2017).
Ia mengaku sudah mengetahui varietas Rajalele yang sudah dikembangkan dan memiliki masa tanam yang lebih singkat, yaitu empat bulan.
Ia juga mengakui kualitas tanaman sangat baik dengan hasil panen yang melimpah.
Baca: Dono Warkop Ternyata Pernah Jadi Dosen di UI dan Anaknya Ahli Nuklir
“Tapi ini masih terlalu lama, waktu empat bulan itu tanggung. Karena mendekati masa panen, justru sudah ganti musim. Jika biasanya tanam saat musim hujan, menjelang panen sudah kemarau sehingga harus tambah modal untuk menyedot air agar mencukupi sampai panen,” katanya.
Menurutnya kondisi ini masih merugikan petani terutama petani garap atau penyewa lahan seperti dirinya.
Bagi Sunar, petani penyewa lahan membutuhkan varietas padi yang cepat dipanen untuk meningkatkan hasil panen yang dijual.
Kondisi ini membuat banyak petani masih enggan menanam varietas padi Rajalele yang dikembangkan BATAN.
“Jika empat bulan, hanya bisa dua kali panen padi. Kalau tiga bulan bisa sampai tiga kali karena diselingi palawija,” ujarnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/petani-di-ceper-mengamati-lahannya_20170919_210419.jpg)