Masyarakat Desa Sendangagung Ikuti Upacara Adat Ki Ageng Tunggul Wulung

Tradisi upacara adat Ki Ageng Tunggul Wulung mengisahkan tentang tokoh Ki Ageng Tunggul Wulung yang merupakan seorang panglima perang dari Majapahit.

Tayang:
Penulis: app | Editor: oda
Dok. Arie Rumanta
Masyarakat Dusun Tengahan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menggelar Upacara Adat Ki Ageng Tunggul Wulung, Jumat (15/9/2017) lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM, MINGGIR - Masyarakat Dusun Tengahan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menggelar Upacara Adat Ki Ageng Tunggul Wulung, Jumat (15/9/2017) lalu.

Upacara adat ini diikuti sekitar 20 Padukuhan yang berada di Desa Sendangagung, Minggir.

Prosesi Upacara Adat Ki Ageng Tunggul Wulung dimulai pada pukul 13.30 WIB dengan kirab prajurit dan pusaka dari Lapangan Desa Sendangagung Minggir menuju rumah juru kunci Makam Ki Ageng Tunggul Wulung yang berjarak kurang lebih dua kilometer.

Arie Rumanta warga setempat, menjelaskan tradisi upacara adat Ki Ageng Tunggul Wulung ini mengisahkan tentang tokoh Ki Ageng Tunggul Wulung yang merupakan seorang panglima perang dari Majapahit yang mengembara sampai tempat ini.

"Pengembaraan ini dipicu oleh perang yang terjadi di Majapahit. Diduga Ki Ageng Tunggul Wulung adalah satu keturunan Prabu Brawijaya V. Pelariannya akhirnya sampai di Dusun Dukuhan, Sendang Agung, Minggir," terangnya.

Di wilayah ini ia kemudian membuka dusun atau pemukiman bersama para pengikutnya. Diduga ia mula-mula sampai di Dusun Ndiro, Minggir, Sleman.

Di tempat ini ia mendirikan semacam kerajaan kecil dan membangun sebuah sendang yang dinamakan Sendang Beji.

"Masuknya Ki Ageng Tunggul Wulung di wilayah ini mengakibatkan wilayah ini menjadi lebih aman dan tenteram. Hal ini membuat orang lain ikut tertarik untuk tinggal di tempat ini. Semua itu terjadi karena peran Ki Ageng Tunggul Wulung yang dapat memberikan pengayoman kepada warga lain yang bermukim di tempat itu (masyarakat) serta mampu pula memberikan kemakmuran," terangnya.

Selain kirab budaya , masih terdapat banyak agenda kegiatan yang dilaksanakan.

Malam harinya dilanjutkan dengan berbagai macam kesenian yang berasal dari berbagai padukuhan di Desa Sendangagung seperti: Jabur dari dusun Tengahan 11, Jathilan Kudho Satriyo dari dusun Sayidan 8, Jathilan Jati Kebar dari dusun Minggir 2, Jathilan Kudho Pengrawe dari dusun Kliran 10, Sholawatan Mudyo Pitutur dari dusun Kergan 7 dan dilanjutkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Kunanto dari Sanggar Dono Sumarjo Minggir 3. (Arie Rumanta/app)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved