Didera Kelumpuhan, Slamet Tak Putus Ibadah
Saat buang air kecil dia lebih banyak menggunakan selang, sedangkan saat BAB Mbah Radi biasanya akan menggendong Slamet ke WC.
Penulis: sis | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Slamet dan ayahnya Radi Utomo hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih kepada tamu yang berdatangan kemarin.
Meski dalam keterbatasan, namun warga Dusun Kaliberot, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu Bantul ini masih semangat menjalani hidup.
Bahagia terpendar di wajahnya, saat jajaran kepolisian dari Polres Bantul yang dipimpin Wakapolres Bantul, Kompol Mariska Fendi Santosa SIK SH yang didampingi Kanit Binpolmas Binmas Polres Bantul, Ipda Ikhwan Wahyudi, Panit Bhinmas Polsek Sedayu Iptu Agus Supraja SH, Bhabin Argomulyo Bripka Ekwan Setiawan, Camat Sedayu Drs Fauzan Mu’arifin, Lurah Desa Argomulyo Bambang Sarwono dan juga dukuh serta warga setempat mendatangi kediamannya, Rabu (13/9/2017) siang.
Slamet, pria 44 tahun ini sehari-harinya hanya bisa berbaring.
Slamet yang dulunya terlahir normal, mendadak menderita kelumpuhan.
Radi Utomo atau Mbah Radi ayah Slamet menerangkan, Slamet mendadak menderita kelumpuhan saat dirinya memasuki bangku kelas VI Sekolah Dasar (SD).
Waktu itu, kenang Mbah Radi, saat naik kelas VI tiba-tiba Slamet mengalami panas padahal sebelumnya kondisinya sangat normal.
Dokter kala itu mendiagnosa Slamet sakit hepatitis dan tipes.
Ironisnya, sejak itulah badan Slamet mulai lemah dan tidak mampu berjalan hanya tiduran saja.
Kalau ingin duduk pun harus bantu didudukkan.
Dikatakan Mbah Radi, kalau Slamet ini sempat mendapat perawatan selama 70 hari di RS Sardjito saat awal menderita kelumpuhan, namun setelah itu tidak ada perawatan lanjutan.
Pun saat ini untuk memeriksa rutin juga tidak dilakukan, mengingat kalau akan membawa ke sarana kesehatan harus menyewa kendaraan roda empat dan mereka tidak memiliki biaya cukup.
“Kalau petugas meriksa kesini rutin belum ada. Kalau sakit ya cukup beli obat di warung , ya adiknya ini yang beli,” katanya.
Dalam kesehariannya, anak kedua dari lima bersaudara ini 'diopeni’ oleh ayahnya, semenjak ibunya terlebih dulu berpulang.
Beberapa hari sekali adik-adiknya juga sering menengok kondisi Slamet.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lumpuh_20170914_175904.jpg)