Satgas Anti-Bunuh Diri Cari Solusi Tekan Tingginya Angka Bunuh Diri di Gunungkidul
Tren bunuh diri ini tidak hanya dilakukan oleh orang yang telah berusia dewasa, namun juga anak yang berusia muda.
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Tingginya kasus bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul terus menjadi perhatian dari pemerintah daerah.
Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bunuh Diri pun mengundang akademisi, LSM, dan berbagai lapisan masyarakat untuk mencari solusi masalah ini.
Pakar Psikologi UGM, Diana Setiawati, menjelaskan tren bunuh diri ini tidak hanya dilakukan oleh orang yang telah berusia dewasa, namun juga anak yang berusia muda.
Motif dibaliknya pun bermacam-macam, tidak hanya motif ekonomi, namun juga masalah sosial, hinngga masalah kesehatan jiwa yang melatar belakangi tingginya kasus bunuh diri tersebut.
"Pelakunya tidak hanya berasal dari orang tua saja, namun juga dari anak muda. Saat tidak ada solusi tersisa, mereka menilai bunuh diri satu-satunya cara mengatasi permasalahan," ujar Diana, Jumat (4/8/2017).
Diana mengatakan, kasus bunuh diri ini merupakan masalah yang kompleks, tidak ada cara yang instan untuk mengatasi masalah tersebut. Kecuali dengan langkah preventif atau pencegahan.
Langkah pencegahan yang dilakukan yakni dengan memberikan edukasi kepada masyarakat akan tanda-tanda perilaku mereka yang suspek bunuh diri.
"Tanda-tanda tersebut yang akan disosialisasikan kepada masyarakat luas agar menjadi perhatian. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan pertolongan pertama kepada indivisu yang mempunyai ide untuk bunuh diri," ujarnya. (*)