Jathilan Satrio Mudho Budoyo Terus Pertahankan Jathilan Tradisi Mataraman
Sejak pertama kali berdiri 41 tahun lalu, para anggota kelompok terus memeggang teguh tradisi tersebut.
Penulis: app | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebagai Kota Budaya, Yogyakarta terkenal akan berbagai kesenian salah satunya jathilan. Di seantero DIY kelompok seni jathilan tumbuh menjamur.
Namun hanya sebagian kecil saja yang mempertahankan jathilan tradisi Mataraman.
Salah satu kelompok yang masih konsisten mempertahankan tradisi tersebut adalah kelompok Jathilan Satrio Mudho Budoyo yang beralamat di kampung Blunyahrejo, Kelurahan Karangwaru, Tegalrejo, Yogyakarta.
Sejak pertama kali berdiri 41 tahun lalu, para anggota kelompok terus memeggang teguh tradisi tersebut.
Sementara itu, Doni Agus Wijayanto Pengarah Jathilan Satrio Mudho Budoyo menjelaskan meski bukan jathilan kreasi yang disuguhi dengan aneka alat musik terbaru dan lagu-lagu semisal dangdut para anggota yang mayoritas muda tetap antusias. Mereka justru mendukung pelestarian jathilan tradisi Mataraman.
"Klasik itu tidak termasuki piranti yang modern. Ngak boleh musik dangdut. Di Kota Jogja sepengatuhan saya hanya kelompok ini," jelasnya.
Untuk menjaga kekompakan dan semangat kelompok tersebut serung menggelar pertemuan setiap bulan sekali. Sehingga komitmen awal kelompok selalu disampaikan dan para anggota sepakat.
"Generasi kelima ini akan meneruskan perjuangan. Harapannya untuk pemerintah daerah yang terkait untuk bisa membantu untuk semua pihak," pungkasnya.
Sementara itu, Sudiyono, sesepuh Paguyuban Satrio Mudho Budoyo menjelaskan dari tahun ke tahun selalu ada penigkatan kualitas.
"Sekarang banyak anak sekolah jadi latihan hari Minggu. Berbagai event tetap ikut. Undangan dari dinas pariwisata juga ikut," jelasnya. (*)