Memahami Hidup dalam Tetralogi Daur

Kini 309 seri tulisan yang ditulis sepanjang tahun 2016 dibukukan dalam Tetralogi Daur.

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: oda
magangtribunjogja/Kholid Anwar
Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng dalam rangka milad FPSB yang ke 22 dan UII yang ke 74, pada Jumat (19/5/2017). (ilustrasi) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Semakin dalam membaca tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib di rubrik Daurcaknun.com, akan makin jauh pula masuk ke dalam perenungan hidup.

Kini 309 seri tulisan yang ditulis sepanjang tahun 2016 dibukukan dalam Tetralogi Daur, yang diawali dengan Anak Asuh Bernama Indonesia, Iblis Tidak Butuh pengikut, Mencari Buah Simalakama, dan ditutup dengan Kapal Nuh Abad 21.

Di Taman Bentang Pustaka Senin (12/6/2017) malam, Cak Nun mengajak jamaah maiyah menyelami belantara daur melalui Tadabbur Daur. Dipandu Nurjanah Intan, Sholahudin dari Bentang Pustaka, Cak Nun berbagi refleksi.

Dialog semakin hidup dengan sesi tanya jawab, juga pandangan para pemantik, yakni CEO Bentang Pustaka Salman Faridi, pegiat maiyah Purwokerto Rizki Dwi R, dan Fahmi Agustian yang juga pegiat maiyah Jakarta.

"(Tulisan) ini awalnya tidak saya maksudkan untuk publik. Jadi tidak saya racik ketika saya dulu nulis di Tempo, Gatra dan media massa lainnya. Wis sak karep-karepku tak dudah lemah," ujar Cak Nun saat berbicara di depan jamaah.

Sementara itu, editor buku ini, Nurjanah Intan menguraikan, berawal dari rubrik Daur dicaknun.com, kemudian ingin mengemasnya dalam bentuk buku agar lebih bisa diselami maknanya secara perlahan-lahan.

Karena pada ruang maya perhatian seseorang lebih mudah teralihkan ketika harus disandingkan kegiatan lain yang menuntut kemampuan multitasking si empunya gawai.

"Kami ingin sesuatu sesuatu yang berbentuk fisik, dibaca perlahan-lahan dan tidak terdistraksi oleh apapun. (Pada akhirnya) Saya ingin memahami tulisan ini," tutur Intan.

Salman Faridi dalam kata pengantarnya di tetralogi ini mengatakan, dalam banyak tulisan yang tersebar dalam ranting-ranting berpokok Daur ini, penting menyimak nasihat dan pesan-pesan yang sering kali disamarkan bagi mereka yang ingin memahaminya lebih dalam.

Semua produk akibat memiliki sebab. Setiap kepak sayap kupu-kupu di satu tempat akan menghasilkan badai dahsyat di tempat lain.

"Semua hal di dunia pada dasarnya saling berhubungan dan saling memengaruhi. Dan alam, pada magnitude tertentu bahkan sanggup mendaur ulang kehidupan di bumi semudah mereset tombol di gawai pintar kita," tulis Salman.

Memang, para pembaca tetralogi ini diajak melakukan Tadabbur Daur agar menyelami kedalaman, pemahaman, pemaknaan hidup, juga pemaknaan diri.

"Para mutadabbir atau pembelajar Daur berusaha membaca Daur dengan metode mengosongkan diri dari kebakuan-kebakuan metodologi yang telah termaterikan selama ini," ujar Hemi Mustofa dari Manajemen Progres, Sekretariat Cak Nun dan Kiai Kanjeng, dalam pengantar empat seri Daur ini. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved