Misteri Alunan Gending dari Situs Berbentuk Gamelan di Wonosobo

alunan gending diiringi musik gamelan bergaung. Saat ditelusuri, musik itu terdengar ramai dari tegalan. Suara itu kemudian lenyap secara misterius

Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjateng | khoirul muzaki
Sejumlah bebatuan kuno berbentuk peralatan musik tradisional jawa ditemukan di Sawangan, desa Tumenggungan, Selomerto Wonosobo (tribunjateng/khoirul muzaki) 

"Batu olahan ini menakjubkan karena mengindikasikan peradaban saat itu telah mengenal teknologi pengolahan batu, namun bukan bata," katanya.

Sejumlah batu kuno ditemukan di Dusun Sawangan, Desa Tumenggungan, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo. Batu-batu menyerupai perangkat gamelan itu tergelar di atas sepetak lahan seluas kurang lebih 700 meter persegi. (tribunjateng/khoirul muzaki)
Sejumlah batu kuno ditemukan di Dusun Sawangan, Desa Tumenggungan, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo. Batu-batu menyerupai perangkat gamelan itu tergelar di atas sepetak lahan seluas kurang lebih 700 meter persegi. (tribunjateng/khoirul muzaki) (Tribunjateng | khoirul muzaki)

Peneliti sekaligus Filolog Agustin Ariyani mengaku tercengang saat melakukan proses penggalian situs di tegalan warga. Pasalnya, bermacam artefak dan batuan utuh saat ditemukan tersusun rapi.

Bebatuan menyerupai gamelan semisal, ditemukan menumpang pada pondasi bata berbentuk garis lurus.

"Di kedalaman 30 centimeter pertama ditemukan artefak, lapisan selanjutnya ditemukan batuan utuh. Benda-benda itu seperti sengaja ditumpuk dan ditata. Juga ada beberapa lapisan tanah yang tidak biasa," katanya.

Pada kedalaman sekitar 50 centimeter di bawah permukaan tanah, tim menemukan lapisan tanah bertekstur lembut, atau biasa disebut lemah aji. Tanah halus itu diduga dipakai untuk melapisi benda-benda yang sengaja ditimbun.

Juga terdapat lapisan berupa bata merah yang dihancurkan pada kedalaman lebih dari 1 meter. "Dari fakta yang ditemukan, melahirkan pertanyaan, mungkinkah benda-benda itu sengaja dikubur. Jika ini benar, bisa mematahkan pengetahuan selama ini yang menyebut, situs terkubur karena bencana alam," katanya. (tribunjateng/khoirul muzakki)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved