Sharing Session Bareng M.Fadli dan Andi Malewa di ICD 2017

Sharing Session bersama dua orang yang akan menginspirasi banyak orang malam ini yaitu, M.Fadli dan Andi Malewa yang bertempat di Plaza Pasar Ngasem.

Editor: oda
tribunjogja/pradito rida pertana
Sharing session yang diisi oleh M.Fadli dan Andi Malewa di ICD 2017 yang bertempat di Plaza Pasar Ngasem. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Pradito Rida Pertana

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Selain workshop dan pentas musik Indonesia Community Day (ICD) juga menghadirkan Sharing Session bersama dua orang yang akan menginspirasi banyak orang malam ini yaitu, M.Fadli dan Andi Malewa yang bertempat di Plaza Pasar Ngasem, Sabtu (13/5/2017) malam.

M.Fadli, seorang mantan pembalap Supersport yang pensiun karena insiden saat dirinya balapan yang mengakibatkan cedera fatal di kakinya, sekarang ia menjalani sebagai atlet paracycling.

Dalam sesi sharing, mantan pembalap ini menuturkan, setelah pensiun dari dunia balap yang membesarkannya ia sekarang fokus mengelola sekolah balap dan mengembangkan kemampuannya di paracycling untuk memgikuti beberapa kejuaraan.

"Setiap hari sekarang saya latihan sepeda, dalam seminggu hanya satu hari libur karena jika tidak menyepeda kondisi tubuh rasanya menurun 20%," katanya.

Fadli menambahkan, maraknya postingan berkonten negatif yang diposting sekarang karena para pemosting tersebut tidak memikirkan dampaknya sebelum memosting hanya memikirkan kepentingan pribadinya.

"Intinya sih satu, kita harus respect ke orangnya dulu, attidtude is everything, sebelum posting harus dipikirkan lagi efeknya bisa kemana dan berdampak apa, bukan karena share sesuatu untuk dapat followers tapi postinf memang untuk memberikan sesuatu yang positif bagi banyak orang," jelasnya.

Pembicara Andi Malewa, penggagas Institut Musik Jalanan (IMJ) di Depok, Jawa Barat menjelaskan, awal mula dirinya membentuk IMJ karena dulunya ia adalah seorang pengamen dan tinggal di Depok.

"Teman saya ngamen ditangkap, saya berpikir kok mengamen dilarang, apa yang salah dengan mengamen?" ujarnya.

Lanjutnya ia mengumpulkan niat ke DPRD Depok tepatnya ke komisi D yang menangani permasalahan tersebut.

"Saya tanya kenapa membuat perda larangan memberi uang ke pengamen, dan jawabannya 'Semua orang yang beraktifitas di jalanan itu menggangu ketertiban umum'", ucapnya.

Ia pun memikirkan bahwa ada yang salah dengan perdanya, mengapa pihak DPRD tidak melakukan observasi terlebih dahulu karena klasifikasi orang jalanan itu banyak, memang ada yang berkedok preman dan lain-lain menurutnya.

Andi menanggapi jawaban pihak DPRD. "Silakan ditertibkan, tapi beri ruang pada kami untuk memproduksi karya musisi jalanan," katanya.

IMJ mengajarkan para pengamen untuk menjadi dirinya sendiri dan tidak menyanyikan lagi orang lain, pihaknya berhasil menelurkan sebuah album kompilasi dari IMJ berjudul Kalahkan Hari Ini.

"Jualan CDnya dengan naik bis dan menawarkan ke penumpang, kadang ke car free day, dengan jangka waktu 8 bulan berhasil terjual 2000 keping CD," paparnya.

Hal tersebut membuat IMJ dilirik banyak pihak, pada tahun 2016 pihaknya membuat album kedua berjudul Cerah yang diikuti dari berbagai daerah. Adapun salah satu partisipan yang berasal dari Jogja. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved