Penetapan Awal Ramadan di Indonesia Diprediksi Bakal Seragam Hingga 2023

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) serta pemerintah memang masih memakai metode berbeda dalam menentukan awal puasa

Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Yoseph Hary W
hilal KP 

TRIBUNJOGJA.COM - Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan posisi 1 Ramadan 1438 Hijriah pada kalender Masehi.

Awal Ramadan ditetapkan jatuh pada 27 Mei 2017 oleh organisasi ini.

Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin memperkirakan, penetapan awal Ramadan di Indonesia tak akan mengalami perbedaan hingga tahun 2023.

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) serta pemerintah memang masih memakai metode berbeda dalam menentukan awal bulan puasa.

"Menurut perhitungan kami, sampai tahun 2023 akan ada persamaan penetapan awal Ramadhan.
Kalau masih tidak sama, itu wilayah toleransi. Tidak perlu ada perpecahan karena itu," kata Din dalam pengajian dan peluncuran RS PKU Muhammadiyah di Mandiraja, Banjarnegara, Kamis (11/5/2017).

Din meminta umat Islam tidak berpecah lantaran perbedaan metode penetapan awal bulan tersebut.

Sebab, masing-masing kelompok dan pemerintah memiliki dasar hukum yang sama, yakni mengacu Al Qur'an dan Hadits.

Menurutnya, Muhammadiyah juga melakukan rukyat dalam menentukan awal puasa.

Perbedaannya, kata Din, pada kelompok lain rukyat dilakukan dengan mengamati visibilitas hilal dengan mata telanjang (rukyat bil ain).

Adapun Muhammadiyah melihat hilal untuk menentukan awal bulan melalui perhitungan matematis dan astronomis (rukyat bil aqli).

"Karena keduanya, baik pancaindera maupun akal adalah hidayah karunia Allah. Jadi perbedaan itu tidak perlu dipersoalkan," tandasnya. (*/tribunjateng)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved