Permen Davos yang Melegenda dari Purbalingga

PERMEN ini sudah diproduksi sejak lebih dari 85 tahun lalu. Kini pengelolanya berada di generasi ketiga.

Tayang:
Editor: Iwan Al Khasni
via intisari.grid.id
Permen Davos 

Kini, ruangan kecil tersebut berubah menjadi bangunan pabrik yang berdiri di atas tanah seluas 6.000 meter persegi. Distribusi barang dilakukan dengan delapan mobil boks.

Yang tidak berubah adalah permen buatan mereka. Iing menjamin, Davos menggunakan 98 persen gula pasir asli dan sisanya mentol serta zat pengikat. Mereka tidak pernah memakai zat pengawet dan pemanis buatan sehingga permen bisa bertahan 1,5 tahun hingga 2 tahun.

Iing menceritakan, nama Davos diambil dari salah satu kota di bagian timur negara Swiss. Daerah itu dikenal beriklim dingin dan sejuk, seperti sensasi rasa permen Davos yang semriwing. Adapun perusahaan kemudian diberi nama PT Slamet Langgeng karena letak pabriknya berada di kaki Gunung Slamet. ”Slamet Langgeng artinya juga agar perusahaan tetap selamat dan langgeng,” ujarnya.

Davos terkenal dengan dua varian yang melegenda. Davos Roll berupa tablet putih berukuran 22 milimeter yang dibungkus kertas warna biru tua serta Davos Lux yang berdiameter sekitar 12 milimeter dan dibungkus di dalam kotak warna hijau. ”Davos Roll lebih pedas dibanding Davos Lux. Davos Roll lebih banyak disukai orangtua, mereka sangat loyal. Sementara Davos Lux lebih disukai anak-anak dan remaja,” tutur Iing.

Menyesuaikan tuntutan pasar, Davos terus berinovasi. Mereka kini membuat dua varian dengan kemasan lebih modern, yakni Davos Classic dan Davos Mini.

Di bawah Budi Handojo Hardi sebagai direktur utama dan Iing Tedjo sebagai direktur operasional, Davos tetap menebar semriwing di masyarakat, terlebih bagi ratusan keluarga karyawannya. Nama Purbalingga pun terangkat dengan keberadaan permen legenda ini. (*)

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved